Jumat, 01 Januari 2010

KETOSIS BABI

KETOSIS BABI

Sinonim
Acetonemia, Acetonuria, Ketonemia, Ketonuria, Acidosis, Hipoglisemia, Parturient dyspepsia, Feed sickness “ impaction”.

Definisi
Ketosis merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh abnormalitas peningkatan konsentrasi benda-benda keton yaitu asam asetoasetat (Acetoactic acid/AcAc), aseton (AcetonAc), dan asam β-hidroxibutirat (BHB) dalam jaringan dan cairan tubuh (Smith, 2002). Benda keton dapat tertimbun di dalam kemih (ketonuria), darah (ketonemia), dan air susu (ketolaksia) (Subronto, 2007). Secara umum, ketosis merupakan hasil gangguan metabolik yang berasal dari keseimbangan energi negatif selama akhir kebuntingan dan awal laktasi, hasil reduksi glukosa dalam darah dan hati (penurunan glikogen), dan peningkatan mobilisasi lemak yang mengakibatkan peningkatan akumulasi benda keton (Smith, 2002). Ketosis biasa ditemukan pada individu yang sedang berpuasa karena untuk memenuhi kebutuhan energinya maka lemak akan dimobilisasi. Berdasarkan hasil benda keton, pakan dibedakan menjadi dua yaitu ketogenik (as. lemak & beberapa as. amino) dan antiketogenik (glukosa dan oksaloasetat beserta senyawa pembentuknya ). Ketosis babi secara umum kurang diakui sebagai penyakit metabolik pada produksi babi komersil. Kasus ini terjadi selama beberapa minggu terakhir kebuntingan induk babi mengalami anoreksia, peningkatan enzim pada hati, ketonuria, dan ketonemia (Alsop et al, 1994).

Etiologi
Ketosis merupakan penyakit produksi yang sering terjadi pada peternakan babi komersil. Beberapa kondisi penyakit dinyatakan bahwa penurunan intake pakan memungkinkan ketosis sekunder sebagai hasil dari mobilisasi lemak dan produksi keton (Smith, 2002). Dengan demikian, ketosis dapat diakibatkan dari tingginya lemak atau rendahnya karbohidrat, Defisiensi insulin secara absolut (contoh: dibetes mellitus), atau defisiensi insulin secara relative, antara lain pada kasus kelaparan (Alsop et al, 1994). Pada semua keadaan tersebut, pada dasarnya tidak ada karbohidrat yang dimetabolisme, karena pada kelaparan dan diet tinggi lemak tidak tersedia karbohidrat dan pada diabetes tidak terdapat insulin. Keton bisa berarti gugus fungsi yang dikarakterisasikan oleh sebuah gugus karbonil (O=C) yang terhubung dengan 2 atom karbon ataupun senyawa kimia yg mengandung gugus karbonil. Keton memiliki rumus umum: R1(CO)R2. Keton yg paling sederhana adalah aseton (secara sistematis dinamakan 2-propanon). Gugus karbonil dr keton bersifat polar, sehingga mengakibatkan senyawa keton polar. Gugus karbonil akan berinteraksi dg air melalui ikatan hidrogen, sehingga keton larut dlm air. Ia merupakan akseptor ikatan hidrogen & bukannya donor, sehingga tdk akan membentuk ikatan hidrogen dg dirinya sendiri, sehingga membuat keton lebih mudah menguap daripada alkohol dan asam karboksilat.
Pada babi, ketosis mungkin berkembang jika ada perubahan dari metabolisme karbohidrat menjadi metabolisme lemak. Dalam jangka pendek, ketosis merupakan suatu langkah aman dimana keton dapat digunakan sebagai sumber energi pada defisiensi glukosa. Dalam jangka panjang, akumulasi keton dalam cairan ekstraseluler dapat menyebabkan nausea serta kekurusan. Penimbuanan lemak tampak pada sel hepatosit selama berlarut-larut atau pengulangan periode ketosis (Alsop et al, 1994). Ketosis juga dapat disebabkan mengkonsumsi pakan yang mengandung keton (Smith, 2002). Ketosis babi berperan dalam kesehatan secara menyeluruh pada peternakan babi komersil sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi nafsu makan saat laktasi dan penurunan berat badan.
Pada hewan monogastrik, glukosa merupakan karbohidrat utama yang dibutuhkan tubuh untuk sintesis asam lemak. Pada konsentrasi normal insulin, esterifikasi menjadi trigliserida dalam hati dan kombinasi dengan apoprotein ke dalam bentuk lipoprotein yang berberat jenis rendah kemudian dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sebagai sumber energi. Ketika konsentrasi insulin mengalami penurunan atau dalam kasus resisten insulin, terjadi peningkatan lipolisis. Karena asam lemak dilepaskan dan tertimbun dalam hati, maka berbalik secara berlebihan terjadi mekanisme normal metabolisme lemak (Alsop et al, 1994).

Patogenesis
Ketosis dapat terjadi karena: kelaparan (defisiensi insulin relative), diabetes melitus (defisiensi insulin absolute), atau terkadang disebabkan oleh diet yang banyak mengandung hampir seluruhnya terdiri dari lemak. Ketosis juga dapat terjadi ketika babi banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak atau sedikit karbohidrat. Pada kondisi ini terjadi perubahan dari metabolisme karbohidrat menjadi metabolisme lemak.
Metabolisme lemak secara normal akan menghasilkan asetoasetat dan ß-hidroksibutirat. Peningkatan metabolisme lemak dpt terjadi jika metabolisme karbohidrat tdk mencukupi, misalnya terjadi defisiensi insulin. Peningkatan metabolisme lemak menghasilkan asam lemak berlebih & akibatnya peningkatan asetoasetat dan ß-hidroksibutirat dlm darah (ketonemia) dan urine (ketonuria)
Glukosa adalah sumber karbohidrat utama yang dibutuhkan tubuh untuk mensintesis asam lemak. Pada konsentrasi insulin yang normal, asam lemak diubah menjadi triglyceride di dalam hepar dan bergabung dengan apoprotein untuk membentuk LDL (low density lipoprotein) yang dilepaskan ke dalam aliran darah sebagai sumber energi.
Skema terjadinya ketosis :
Konsentrasi insulin menurun atau terjadi resisten insulin

Lipolisis meningkat

Asam lemak dilepas dan terakumulasi dalam hepar

Asam lemak dikonversikan menjadi acetyl CoA

Acetyl CoA diubah menjadi Benda keton (acetoacetic
acid (AcAc),beta-hydroxybutyrate (BOHB),dan acetone)

konversi asam lemak menjadi benda keton pada jangka pendek masih aman karena keton dapat digunakan sebagai sumber energi pada kasus defisiensi glukosa

untuk jangka panjang, keton akan terakumulasi di cairan extracelluler dan spill over ke dalam darah dan urine



SIKLUS KREBS

Gejala Klinis
Gejala ketosis yang tampak pada babi tidak jauh berbeda dengan kejadian ketosis pada sapi. Umumnya babi akan mengalami penurunan nafsu makan(anorexia) yang mengakibatkan penurunan berat badan dalam jangka panjang. Terjadi pula kelesuan, dehidrasi, kulit tampak kusam dan kurang elastis pada babi penderita serta kurang tanggap terhadap rangsang mekanis maupun suara. Namun, gejala yang paling khas adalah adanya bau aseton yang tercium dari nafas, susu (ketolaktia), dan urine (ketonuria). Gejala ketosis yang lain yaitu rendahnya produksi susu. Apabila dilakukan uji kandungan air susu, maka akan terlihat menurunnya kandungan lemak, lactosa dan casein dalam susu. Selain itu, terjadi peningkatan kadar enzim hati dan adanya kerusakan jaringan hati serta kelenjar endokrin.

Diagnosa
Terdapat berbagai cara untuk meneguhkan diagnose seekor babi mengalami ketosis, yang paling sederhana adalah melihat gejala klinis yang timbul seperti anorexia, kelesuan, produksi susu turun dan bau keton pada susu dan urin. Uji nitroprusid bisa dilakukan sebagai uji penentuan klinis yaitu dengan meneteskan plasma yang diambil dari vena mamaria pada serbuk nitroprusid, bila mengandung asetoasetat tinggi akan menghasilkan warna jingga tua (Subronto dan Ida Tjahajati, 2004). Uji nitroprusid dilakukan untuk mengetahui ketosis secara cepat atau spontan. Uji klinik lain yang bisa dilakukan yaitu uji keton pada urin (van lange) dan uji darah. Selain uji klinik, autopsi babi dengan pemeriksaan histopatologi jaringan terutama pada organ hepar dan pada sel-sel pankreas juga bisa dilakukan dan akan tampak sel-selnya mengalami atrofi. Secara makros hati akan tampak membesar, kuning, pucat, dan pada potongan permukaan akan terlihat lapisan berminyak jika diiris dengan pisau.

Preparat histopatologi organ hepar

Pengobatan
Pada intinya terapi yang dilakukan adalah untuk mengembalikan kadar gula dalam darah ke level normal dan mengurangi kadar keton. Terapi yang dapat dilakukan adalah pemberian infus larutan Glukosa 50% sebanyak 500ml, Propylene Glycol 250-400 g/dosis, PO 2x sehari. Injeksi Glukokortikoid (Dexametason) 5-20 mg/dosis, IM. Ada juga yang menyarankan dengan terapi insulin 150-200 IU/hari, IM.

Pencegahan
Pada sapi post partus harus diberikan pakan dengan kadar energi yang tinggi dengan cukup pemberian konsentrat. Pemberian pakan hijauan berkualitas baik dengan jumlah cukup atau pemberian propylene glycol (sodium propionat) 100 g/hari. Diusahakan jangan memberikan pakan yang mengandung lemak tinggi saat melahirkan (pre partus) dan meningkatkan pemberian konsentrat post partus. Hindari pemberian hay, dan silase karena mengandung asam butirat yang tinggi. Pencegahan lain yaitu babi harus dihindari dari stress.

























DAFTAR PUSTAKA

Alsop, J.E., Hurnik D., and Bildfell R.J. 1994. Porcine Ketosis: A Case Report And Literature Summary. Swine Health and Production - Volume 2, Number 2. Canada.Pp: 5-8.
Anonim1.2006. www.fkh.unair.ac.id/webometric/IPNH/IPNH%20'06
Anonim2. . vet02ugm.wordpress.com/
Smith, B.P. 2002. Large Animal Internal Medicine thirdh edition. Toronto: Mosby, Inc. Pp. 1241.

Subronto. 2007. Ilmu Penyakit Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Summary.http://74.125.153.132/search?q=cache:n2N83rNpKNEJ:www.aasv.org/shap/issues/v2n2/v2n2p5.pdf+swine+ketosis&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id
20:16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar