Jumat, 01 Januari 2010

Menuju Halaqoh Yang Muntijah

Menuju Halaqoh Yang Muntijah
Oleh: Ustadz Musyafa (DPP PKS)

Produktivitas = Pohon yang baik, serta tanah yang baik pula (Ardhun Thoyyibatun), yang memiliki criteria Amtzakatil maa’ walatumtsikalkalaa’= menyerap air dan tumbuh tanaman yang baru. Dan tanah yang tidak baik (Qi’an) diibaratkan tidak bisa menampung air hujan dan tidak tumbuh tanaman.
Dan bagaimana agar syarat itu semua terpenuhi untuk mewujudkan muntujah atau produktif, yakni dengan cara:
1. Memilih biji yang terbaik  bibit unggul, dalam artian ketika kita akan memilih bibit unggul berarti banyak bibit yang akan disortir, dan bedanya dakwah dengan prinsip petani adalah, dalam dakwah itu memilih siapa yang akan diambil, bukan siapa yang akan dibuang dan tidak ada prinsip membuang didalam dakwah. Bagaimana caranya agar biji terbaik itu kita dapatkan?? Yakni dengan cara memasifkan dakwah amah  dakwah amah harus ramai dan semarak. Jika dakwah amah itu loyo maka bibit yang akan kita dapatkan juga seadanya, bukanlah bibit unggul. Dan ketika dakwah amah itu baik maka yang ingin kita tuju adalah orang lain itu akan berkerumun tidak jauh dari aktivitas kita, sehingga dapat kita pilih bibit2 potensial yang akan kita bina.
2. Tanah yang baik  dalam hal ini kita akan membicarakan pula kualitas murobbi yang baik, tidak seadanya. Dan lembaga yang bisa menghasilkan Murobbi terbaik adalah halaqoh itu sendiri ma’hadnya
3. Bagaimana MR mengelola halaqoh itu (yang menanam??). Inti ketika melakukan proses tarbiyah adalah bagaimana murobbi bisa melihat potensi unggul dari mutarobbinya, kemudian seseorang tersebut kita ledakkan agar menjadi bibit-bibit tanaman segar yang baru yang dapat berkontribusi dalam dakwah.
4. Hasil?? Mau dikemanakan hasil dari proses tarbiyah itu? Ketika kita mentarbiyah seseorang mungkin yang kita tanamkan adalah nilainya atau fikrohnya. Bagaimana agar seorang kader memiliki pemahaman fikroh yang baik. Contoh kalaulah kita membelajarkan murarobbi Qur’an dan Hadits, secara dasar mereka akan paham bagaimana membaca Qur’an dan maknanya. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa melahirkan sososk-sosok politikus yang paham Qur’an dan hadits, sosok ekonom yang paham qur’an dan hadits, dokter yang paham qur’an dan hadits, dsb. Inilah yang paling penting dalam proses tarbiyah itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar