Senin, 06 Desember 2010

LARYNGITIS DAN INFESTASI EAR MITES PADA ANJING ”PONI”

KOASISTENSI KLINIK INTERNA KECIL
LAPORAN KASUS MANDIRI

LARYNGITIS DAN INFESTASI EAR MITES
PADA ANJING ”PONI”








Disusun oleh :
Julvina Kusumastuti, S.K.H.
10/309835/KH/06751

Dosen Pembimbing :
Prof.Dr.drh.Sri Hartati, SU.

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL 1
DAFTAR ISI 2
INTISARI 3
TINJAUAN PUSTAKA 4
Laryngitis 5
Ear Mites 6
Amoxicilin 10
Vitamin B-plex 11
Duradryl 12
Ivomec 14
OBH 15
RIWAYAT KASUS 16
HASIL 19
PEMBAHASAN 21
Anamnesa dan Pemeriksaan fisik 21
Pemeriksaan Laboratorium 22
a. Pemeriksaan feses 22
b. Pemeriksaan ektoparasit 22
c. Pemeriksaan darah 23
Pengobatan 27
Perkembangan Keadaan Pasien 27
KESIMPULAN DAN SARAN 31
Kesimpulan 31
Saran 31
DAFTAR PUSTAKA 32













INTISARI

Pada hari Senin tanggal 15 November 2010 telah dilakukan pemeriksaan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Poliklinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada terhadap Anjing ”Poni” dengan signalemen domestik, ♀, 6 bulan 3 minggu, atas pemilik Sdri. Ummi yang beralamat di Demangan Kidul, Yogyakarta
Berdasarkan Anamnesa sudah 6 hari anjing batuk-batuk dan pilek, nafsu makan dan minum masih baik, populasi 13 ekor tetapi dimasukkan dalam kandang individu. Pakan berupa bubur dan hati ayam. Satu bulan yang lalu diberi obat cacing berupa drontal dan 2 minggu sebelumnya dilakukan pemasangan pin dalam femur. Status Praesens: kondisi tubuh kurus, ekspresi muka lesu, frekuensi nafas 48x/menit, pulsus 80x/menit, temperatur 40 °C, turgor kulit masih bagus, rambut tidak rontok, Konjungtiva pink, CRT <2 detik, cermin hidung basah. Mulut bersih, palpasi leher dan laryng ada refleks batuk, palpasi abdominal tidak ada rasa sakit, anus bersih. Sistole-distole dapat dibedakan (normal). Tipe nafas thoracoabdominal, auskultasi paru-paru vesikuler. Palpasi ginjal tidak ada rasa sakit dan tidak ada pembengkakan. Refleks pupil, palpebra, pedal baik. Tidak dapat berdiri dan berjalan dengan baik, karena fraktur femur sinister. Ada pembengkakan lgl submadibula dexter dan sinister. Berat badan 4,6 kg. Pemeriksaan feses natif (-) negatif. Pemeriksaan kulit (-) s; jamur (UV tidak berpendar). Pemeriksaan ektoparasit (+) Otodectes cyanotic. Pemeriksaan darah hewan mengalami anemia normositik hiperkromik, leukositosis (netrofilia), monositosis, dan hiperfibrinogenemia
Hewan didiagnosa Laryngitis dan Ear mite dengan prognosa fausta. Hewan diterapi dengan injeksi amoxicilin 0,5 cc i.m , s.2.d.d, selama 8 hari, injeksi duradryl 0,5 cc i.m, s.1.d.d, tiga kali pemberian selama pengobatan, injeksi B.plex 0,5 cc s.1.d.d, selama 8 hari, dan injeksi Ivomec 0,2 cc s.c,
Setelah diberi terapi, hewan menunjukkan peningkatan nafsu makan, dengan berat badan Anjing dari 4,6 kg setelah seminggu meningkat menjadi 5 kg. Berdasarkan pemeriksaan fisik palpasi laryng tidak ada reflex batuk. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah II tanggal 22 November 2010 menunjukkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan hewan mengalami proses penyembuhan setelah diberi pengobatan.

TINJAUAN PUSTAKA
A. LARYNGITIS
Laringitis adalah peradangan kotak suara (laring), iritasi atau infeksi pernapasan. Laryngitis dapat bersifat primer atau sekunder, penyebabnya antara lain yang paling sering adalah karena terlalu banyak menggonggong, anjing ditempatkan di tempat yang baru, inhalasi debu atau bahan kimia yang menggannggu dan akibat infeksi bakteri. Agen penyebab laryngitis antara lain ; E. Coli, F. Necrophorum, Pasteurella, Streptococcus sp, C. Pyogenes, Mycoplasma.
Proses radang pada yang terjadi pada laryng umumnya tidak berdiri sendiri karena organ-organ disekitarnya ikut mengalami radang. Adanya proses keradangan dapat dilihat dari adanya pembengkakan pada Lgl. Mandibularis. Gejala akibat gangguan ini antara lain terjadi perubahan suara menjadi parau, sukar menelan dan muntah, batuk kering non produktif, palpasi daerah laryng terjadi reflex batuk, dispnoe inspiratorik, stridor laryngeal, mendengkur dan ronchi kering (awal) atau basah (stadium lanjut).
Proses radang disertai dengan kebengkakan jaringan dan akumulasi produk radang sehingga saluran pernafasan menjadi sempit. Kebengkakan pada pita suara akan mengakibatkan suara menjadi parau. Frekuensi pernafasan meningkat dan inspirasi lebih panjang namun tidak terjadi pada ekspirasi. Frekuensi pulsus dan suhu tubuh mengalami kenaikan yang dapat dilihat pada hasil pemeriksaan klinis. Penderita akan mengalami penurunan nafsu makan akibat obstruksi dan pada kasus yang kronik akan mengalami kekurusan.
Diagnosa dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis, inspeksi terlihat adanya radang pada limfoglandula dan auskultasi paru-paru biasanya negatif. Diagnosa pasti laryngitis dapat dilakukan dengan laryngoscope untuk membedakan dengan pharyngitis, bronchitis, naopharyngeal polyp, abses atau laryngeal paralysis. Perbedaan dengan bronkhitis adalah palpasi pada daerah tenggorok atau pangkal tenggorok tidak menyebabkan batuk dan pada auskultasi suara ronchi terbatas pada daerah bronchus yang terkena sedangkan pada laryngitis dan tracheitis suara seperti mendengkur terdengar hampir pada seluruh daerah paru-paru.
B. EAR MITES
Ear mite pada anjing umumnya dialami hewan muda. Tungau ini dapat dilihat dengan mata telanjang berupa titik putih kecil tetapi biasanya harus dideteksi dengan pemeriksaan swab telinga dibawah mikroskop. Otodectes cyanotis adalah tungau ditemukan di telinga anjing dan kucing. Tungau ini umumnya tinggal di sepanjang permukaan saluran telinga tapi kadang-kadang dapat ditemukan di bagian lain dari tubuh dan di lingkungan umum. Posisi yang paling umum bagi mereka untuk dapat ditemukan selain telinga adalah leher, pantat dan ekor ( Bowman, et al., 2002).






Gambar.1. Otodectes cynotis, female Otodectes cynotis, male
Identifikasi tungau sangat mudah karena tidak ada tungau nonpenggali yang berukuran sebesar ini dan ditemukan khusus di telinga. Tungau tampak berwarna putih, dapat terlihat bergerak pada telinga atau swab kotoran telinga. Larva tungau berukuran panjang 138-224 µm. Jantan dewasa berukuran 274-362 µm. Betina masak berukuran panjang 345-451 µm. Pada pengamatan bagian distal, pretarsi dari bagian sepasang kaki anterior akan tampak “wine-glass-shape” caruncle pada pedikel pendek. Tungau jantan memiliki caruncle pada ke-4 pasang kaki, sedangkan pada pasang kaki ke-3 dan ke-4 tungau betina hilang dan digantikan oleh rambut panjang atau setae. Bagian tubuh posterior tungau jantan memiliki penghisal bagian ventral yang berfungsi sebagai pegangan untuk deutonymph pada siklus hidupnya. Telur berwarna putih, oval, agak pipih pada satu sisi, panjang 166-206 µm.
Tungau tersebut sangat menular dan dapat menginfestasi beberapa jenis hewan. Mekanisme iritasi disebabkan oleh adanya tungau dalam telinga yang dapat mengakibatkan meningkatnya aktifitas ceruminal glands dan. Oleh karenanya, menjadikan lingkungan yang menguntungkan bagi infeksi sekunder bakteri maupun jamur. Infestasi tersebut dinamakan ‘otodectic mange’ dan secara umum hewan yang terinfestasi menunjukkan gejala tidak nyaman, gatal yang sangat dan bahkan gangguan pendengaran, tergantung dari tingkat keparahannya. Meskipun sebagai tungau penyebab utama eksternal otitis, tetapi informasi mengenai prevelensi dan faktor yang mempengaruhi infestasinya belum banyak dibahas ( Souza, C.P., et al. 2008)








Gambar.2. Siklus Hidup
Siklus hidup dimulai saat betina meletakkan telur yang direkatkan pada saluran telinga oleh sekresi tungau betina. Telur membutuhkan 4 hari inkubasi untuk dapat menetas. Siklus hidup meliputi stadium larva, protonymph, dan deutonymph. Setiap stadium membutuhkan 3-5 hari untuk berkembang dan membutuhkan 1 hari untuk menyilih (ecdyse). Dibutuhkan waktu skitar 18-28 hari untuk menyelesaikan 1 siklus dari telur hingga telur kembali
Karakteristik infeksi biasanya menghasilkan bentukan kering di telinga berwarna hitam umumnya menyerupai bubuk kopi, karena ciri khas tersebut, infeksi sering didiagnosis berdasarkan adanya bentukan tersebut meskipun tanpa pemeriksaan visual dari tungau di bawah mikroskop. Bentukan ini terdiri dari kotoran telinga, darah, inflamasi biokimia, dan tungau telinga sendiri. Kadang-kadang anjing mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan terkait dengan parasit tetapi dalam kasus lain, mereka akan menyebabkan otitis yang merupakan radang yang menyakitkan telinga. Tidak ada hubungan antara infestasi ear mite dengan umur, aktifitas seksual atau gaya hidup kucing terinfestasi. Ear mites yang hidup dan berkembang biak dalam eksternal dan internal lubang telinga menyebabkan iritasi. Sekresinya dapat menimbulkan radang hebat dan reaksi hipersensitif segera setelah terinfestasi, dan kasus kronis pada kucing dapat menghasilkan hipersensitif tipe arthus. Akan tetapi, lesi awal sering tidak terdeteksi pada kebanyakan kasus. Ini menjadikan spekulasi bahwa kucing dalam usia mudanya mengembangkan ‘imunitas’ melawan tungau dan ini dapat menjelaskan mengapa ear mites termasuk jarang menimbulkan gejala klinis (R.Fakas., et al. 2007)
Hewan yang ter infeksi Otodectes cynotis menunjukkan peningkatan antibody IgE pada hari ke 14 setelah infestasi. IgE mempunyai 5 peran penting dalam komponen histologi saat infestasi ear mites : (1) permukaan epitel diselimuti oleh material kerak, berlilin, dan mudah hancur: (2) epitelium mengalami hiperkeratosis dan hiperplasia: (3) glandula cerumina dan sebasea tampak sangat reaktif hiperplasia: (4) sel radang (mast sel dan makrofag) ditemukan dalam jumlah besar: dan (5) peredaran darah , khususnya vena dibawah dermis mengalami dilatasi.
Gejala klinis sangat beragam dan termasuk kombinasi dari: (1). Iritasi telinga penyebab luka garukan pada telinga atau geleng-geleng kepala. (2). Keluarnya kotoran telinga kehitaman atau penebalan kulit dari dalam telinga. (3). Alopesia sebagian yang diakibatkan digaruk sendiri atau grooming yang terlalu sering. (4). Aural hematoma, karena sering digaruk. Lesi pada kulit sering terlihat disekitar telinga, tetapi tidak menutup kemungkinan daerah lainnya dapat terserang.
Pengobatan ear mites harus dimulai dengan membersihkan telinga untuk menghilangkan kotoran. Telinga kemudian harus diperlakukan dengan persiapan topikal untuk membunuh tungau. Perawatan ini harus dilanjutkan selama 2 minggu untuk mengantisipasi siklus hidup tungau agar hewan benar-benar sembuh. Kandang dan lingkungan harus dibersihkan dari tungau. Ivermectin sangat berguna bagi hewan peliharaan yang tidak akan memungkinkan pengobatan langsung telinga mereka. Ini adalah metode yang sangat efektif pemberantasan ear mites tetapi ada beberapa keterbatasan. Keturunan anjing tertentu sensitif terhadap obat ini.







Gambar 3.cara membersihkan telinga dengan cotton bud


C. AMOXICILLIN


Struktur Kimia Amoxycillin
Kalmoxicilin (Kalbe Farma) merupakan salah satu produk yang memilki kandungan Amoxicillin merupakan antibiotik semi sintetik dari penisilin (Subronto dan Tjahjati, 2008). Amoxicilin tersedia dalam bentuk serbuk injeksi yang tiap vial berisi amoxicillin sodium yang setara dengan amoxicillin 1000 mg. Konsentrasi larutan amoxicilin injeksi ini adalah 10% yang dapat diaplikasikan secara IM atau IV (Hardjasaputra et al, 2002). Amoxicilin merupakan penicilin yang tahan asam, termasuk asam lambung. Hal ini dikarenakan amoxicilin memiliki gugus phenoxyl yang terikat oleh gugus alkyl dari rantai acylnya (Subronto dan Tjahjati, 2008).
Amoxicilin disebut penisilin spectrum luas karena memiliki gugus hidroksil fenolik tambahan dan dapat bekerja terhadap bakteri Gram negatif seperti E. coli atau Proteus mirabilis. Aktifitas antibakteri amoxicilin ini terletak pada cincin beta-laktam (Mutschler, 1991). Kebanyakan batang enterik Gram negatif) menghasilkan beta-laktamase (penicillinases), yang menginaktifkan penisilin dengan memecah cincin beta-laktam (Katzung, 1998).
Beberapa bakteri mungkin tidak rentan terhadap kerja penisilin yang mematikan karena enzim autolik didalam dinding sel tidak aktif. Organisme yang toleran tersebut (misalnya, Staphylococcus tertentu, Streptococcus, Listeria) dihambat tetapi tidak dibunuh. Organisme tanpa dinding sel atau (bentuk Mycoplasma L) yang secara metabolik tidak aktif bersifat tidak rentan terhadap penisilin dan penghambat dinding sel lainnya karena mereka tidak mensistesis peptidoglikan. Beberapa bakteri (misalnya, Staphylococcus) mungkin resisten terhadap kerja beta-laktam pada penisilin yang resisten terhadap beta-laktamase seperti metisilin. Mekanisme resisten ini tampaknya bergantung pada defisiensi atau tidak dapat dicapainya Penicilin Binding Protein (PBP), hal ini tidak bergantung pada produksi beta-laktamase dan frekuensinya sangat bervariasi dengan lokasi geografis (Katzung, 1998). Dosis pemberian amoxicilin pada anjing 10 mg/kg bb 2 kali sehari selama 3-5 hari (Rossof, 1994).

D. VITAMIN B-KOMPLEKS
Vitamin B komplek merupakan komplek vitamin B yang berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Komposisinya meliputi Thiamin HCl, Riboflavin, Pyridoksin HCl, kalsium pentatonat dan Nicothinamide.
Thiamin HCl penting untuk oksidasi karbohidrat, berdasarkan fungsinya sebagai koenzim pada proses dekarboksilasi asam alpha keto (asam piruvat, asam laktat). Riboflavin adalah komponen dari flavoprotein enzim yang merupakan bagian dari sistem enzim pada transfer hidrogen (sebagai koenzim pada transpor hidrogen dalam siklus crebs) dan juga bekerja dalam proses degradasi asam lemak, proses oksidasi asam piruvat dalam SSP, asam amino, aldehide, dan produk metabolisme yang lain. Pyridoksin HCl dalam tubuh diubah menjadi pyridoksal fosfat yang berpengaruh sebagai koenzim yang essensial dalam susunan enzim yang diperlukan pada proses dekarboksilasi, transaminasi dan racemisasi asam amino, serta menbantu transpor asam amino melalui membran, membantu proses sintesa dari unsaturated fatty acid, dan membantu merubah triptopan menjadi asam nikotinat. Kalsium pentatonat sebagai bagian dari koenzim A yang diperlukan untuk proses metabolisme, yaitu proses asetilasi, biotransformasi preparat sulfonamide dalam hepar, permulaan siklus crebs, dan metabolisme asam lemak serta asam amino. Nicotinamide sebagai antipelagra, merupakan komponen essensial dari koenzim I dan II dimana enzim tersebut bekerja sebagai penerima H+ dan pemberi H+ dalam proses oksidasi-reduksi dari siklus crebs dan dalam metabolisme zat hidrat arang, zat lemak, dan zat putih telur.


E. DURRADRYLl® (Dipenhydramine HCl)

Gambar 3. Ikatan rantai kimia Diphenhydramine HCl (2-benzhydryloxy-N,N-dimethyl-ethanamine)

Duradryl merupakan antihistamin dalam sediaan bentuk larutan injeksi 15 ml per ampul yang tiap ml mengandung diphenhydramin HCl 10 mg. Setiap 1 ml Delladryl mengandung Diphenhidramin HCL 10 mg. Diphenhidramin HCL merupakan antihistamin (AH1). Struktur dasar AH1 adalah sebagai berikut :
Ar1 H
X CH2 CH2 N
Ar2 H
Dengan Ar = aril dan X dapat diganti dengan N, C atau –C-O-.
Antihistamin beraksi secara antagonis kompetitif untuk reseptor histamin khusus di dalam jaringan sel dengan mengikat reseptor sel secara tidak langsung beraksi pada sel. Ikatan dengan sel akan menyebabkan tidak adanya efek histamin pada sel tersebut. Diphenhidramin HCl sendiri merupakan antihistamin dari klas ethanolamine, yang dapat mengandung sedatif, antimuskarinik, dan anti emetika, sehingga dapat menekan gejala batuk, serta antihistamin (H1) menekan muntah dan pruritis (Tennant, 2002). Penggunaan secara i.m jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling sering digunakan. Lama kerja H1 setelah pemberian dosis tunggal kira-kira 4-6 jam (Ganiswarna, 2001). Metabolismenya terjadi di hepar dan kemudian akan diekskresikan lewat urin.
Antihistamin H1 digunakan dalam mencegah aksi histamin pada bronchial, intestinal, uterus, mukulus halus pembuluh darah. Sebagai antagonis terhadap efek vasokonstriksi oleh histamin dan lebih berpengaruh terhadap efek vasodilatator dalam meningkatkan permeabilitas kapiler. Antihistamin ini berefek terhadap urticaria dan beberapa tipe edema sebagai respon terhadap kelukaan, antigen, alergen dan senyawa histamin yang dibebaskan oleh beberapa spesies.
Setiap antihistamin dapat menghasilkan efek samping. Salah satu yang penting secara klinik pada penghambatan H1 yaitu sedasi atau rangsangan CNS, gangguan gastrointestinal, aksi parasimpatolitik, efek teratogenik dan anastetik. Pada dosis terapeutik dapat berefek sedativa, dalam dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan iritabilitas, konvulsi, hiperpireksia, dan bisa menyebabkan kematian
Diphenhydramin umum digunakan pada pengobatan rhinitis karena alergi, gigitan serangga dan karena nyeri. Efek samping yang paling umum diketemukan seperti rasa ngantuk, ataksia, mulut kering, tachycardia, photophobia, dilatasi pupil, retensi urinaria, konstipasi dan gangguan pengelihatan (Adam,1995). Sehingga penggunaan diphenhdramin kontraindikasi terhadap penderita retensi urin, glaukoma, dan hiperthyroidism (Tennant, 2002).
Diphenhidramine HCL lebih poten daripada antazoline, onset kerja cepat, dan durasi aksinya lebih lama. Dosis pada hewan kecil adalah 1 mg/kg dan hewan besar 0,25-0,5 mg/kg (Brander et al, 1991). Penggunaan secara IM jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling sering digunakan. Antihistamin beraksi secara antagonis kompetitif untuk reseptor histamin khusus di dalam jaringan sel. Senyawa ini mengikat reseptor sel secara tidak langsung beraksi pada sel. Cara kerja berdasarkan pertimbangan kuantitas. Pada umumnya antihistamin lebih efektif terhadap histamin eksogen daripada histamin endogen. Senyawa ini lebih efektif dalam mencegah kerja histamin
Pengaruh pemberian antihistamin terhadap histamin dari reaksi adanya benda asing yaitu badan sel neuron-neuron histaminergik terdapat di nukleus tuberomamilaris hipotalamus posterior, sedangkan akson-aksonnya berpendar ke seluruh bagian otak, termasuk korteks serebri dan medula spinalis.histamin ditemukan dalam sel-sel mukosa lambung dan sel-sel yang mengandung heparin yang disebut sel mast. Terdapat tiga reseptor histamin yaitu H1, H2, dan H3. Reseptor H3 merupakan reseptor presinaptik yang memperantai inhibin pelepasan histamin dan transmiter lain melalui protein G, sedangkan reseptor H2 meningkatkan kadar cAMP intrasel dan reseptor H1 meningakatkan fosfolipase C (Ganong, 2002). Adanya infeksi bakteria maupun jamur akan meningkatkan jumlah histamin, sehingga jumlah histamin menjadi berlebihan.jumlah histamin yang berlebihan akan memacu reaksi alergi yang berlebihan sehingga tidak menguntungkan. Pemberian antihistamin sesuai dosisnya akan menekan produksi histamin dengan cara antagonis kompetitif. Sehingga pemberian antihistamin yang sesuai tidak akan membuat masalah terhadap proses penyembuhan dan dapat membantu menekan stress yang dialamia pasien.

F. IVOMEC®
Ivomex adalah suatu obat anti ektoparasit dan anti endoparasit. Ivomec merupakan larutan ivermektin 1,0 w/v steril yang siap pakai. Ivermektin dihasilkan lewat proses fermentasi dari Streptomyces avermitis. Pemberian secara peroral memiliki half-life 10-12 jam. Ivermectin langsung diadsorbsi (95%) setelah pemberian secara oral dan didistribusi dengan bagus ke jaringan kecuali Sistem Syaraf Pusat. Ivermectin sebagian besar dieliminasi lewat feses dan sebagian kecil dieliminasi melalui hati dengan cara oksidasi.
Mekanisme kerja ivermectin adalah merangsang pelepasan inhibitor neurotransmitter GABA dan memproteksi perlekatan GABA pada spesifik neural junction invertebrata, sehingga terjadi paralisa ringan inkoordinasi irreversibel dan parasit mati (Plumb, D.C., and Pharm, 1999). Ivermectin mempunyai sifat vermisidal dan acarisidal karena kesanggupannya berikatan dengan asam gamma aminobutirat (GABA) dan mengganggu saluran khlor (chlor pathway) hingga terjadi hiperpolarisasi membran sel dan selanjutnya menghambat hantaran syaraf, yang berakibat kelumpuhan syaraf pada otot perifer. GABA sendiri pada mamalia hanya menghambat hantaran syaraf pada susunan syaraf pusat, sedangkan pada nematoda dan artropoda pada mengatur hantaran syaraf sampai otot perifer (Subronto dan Ida Tjahajati 2001). Dosis ivermectin 0.2-0.4 mg/kg s.c. sediaan dalam konsentrasi 1%. Dosis yang dianjurkan pada anjing secara peroral adalah 300 mcg/kg berat badan dengan konsentrasi obat 1% (Rossof, 1994).
G. OBH Indoplus
Indikasi pemberian OBH Indoplus adalah untuk meringankan gejala-gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin yang disertai batuk. Cara kerja obat ini sebagai analgesic-antipiretik, antihistamin, ekspektoran dan dekongestan hidung.
Komposisi :
Tiap sendok takar (5 ml) mengandung :
Parasetamol 200 mg
Pseudoefedrin HCl 15 mg
Klorfeniramin maleat 0,5 mg
Amonium klorida 25 mg
Succus liquiritae 75 mg
Efek samping obat ini dapat menyebabkan kantuk, gangguan pencernaan, insomnia, gelisah, eksitasi, tremor, takikardia, aritmia, mulut kering, palpasi, retensi urin. Penggunaan dalam dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.
Kontraindikasi pada penderita gangguan jantung dan diabetes mellitus, penderita gangguan fungsi hati yang berat, dan penderita hipersensitifitas terhadap komponen obat. Interaksi obat ini digunakan bersama antidepresan tipe penghambat MAO dapat mengakibatkan



RIWAYAT KASUS

No. 753 Tanggal : 15 November 2010 Macam Hewan : Anjing
Nama & Alamat pemilik : Ummi
Demangan Kidul (085868246807) Nama Hewan : Poni
Mahasiswa : Julvina Kusumastuti, S.K.H. Signalemen : Domestik, ♀, 6 bulan 3 minggu, coklat putih

ANAMNESA :
Pilek sejak tgl 9 Nov, batuk kering, belum pernah vaksin, sudah obat cacing (Drontal) 1 bln yang lalu, tidak mau makan, tidak muntah.

STATUS PRAESENS :
1. Keadaan umum :
EM : Lesu
KT : Kurus
2. Frek. Napas : 48 x/mnt; Frek. Pulpus : 80 x/mnt; Tº badan : 40 ºC
3. Kulit & Rambut :
a. Rambut : tidak rontok, kusam
b. Turgor kulit : baik
4. Selaput lendir :
a. Konjunctiva : pink (normal)
b. CRT : < 2 detik
5. Kelenjar-kelenjar Limfe : tidak ada pembekakan
6. Pernapasan :
a. Tipe napas : thoraco-abdominal
b. Auskultasi : vesikuler
c. Leleran/ Batuk : palpasi laryng ada batuk, leleran di hidung.
7. Peredaran darah :
Systole-diastole : terdengar dan dapat dibedakan

8. Pencernaan :
a. Mulut : bersih
b. Palpasi abdomen : tidak ada rasa sakit
c. Anus : bersih
9. Kelamin dan perkencingan :
a. Kelamin : bersih
b. Palpasi ginjal : tidak ada rasa sakit
10. Syaraf :
a. Refleks pupil dan palpebra : baik
b. Refleks pedal : baik
11. Anggota gerak : tidak dapat berjalan normal dan berdiri dengan 4 kaki karena
fraktur femur sinister
12. Lain-lain : ; BB : 4,6 Kg
• Ditemukan Otodectes cynotis di telinga
13. Pemeriksaan Laboratorium,dsb
a. Feses : Coklat
- Konsistensi : normal
- Natif : ( - ) negatif
- Sentrifuse : ( - ) negatif
- .
b. Darah :
- Sifat : pekat
- Kadar Hb : 12,4 g/dl
- Pr. Apus : Neutrofil seg. 2.367.400 (sel/mm3); limfosit 186.200 (sel/mm3); monosit 106.400 (sel/mm3).
DIAGNOSA : Laryngitis dan infestasi Ear Mites
PROGNOSA : fausta

TATA LAKSANA :
Inj. Amoxicilin 0,5 ml
S.2dd
Inj/ Vit. B.plek 0,5 ml
s.1.d.d.
Inj/Duradryl 0,5 ml
S.1dd
Inj/Ivomec 0,2 ml.
s.haust
R/OBH syr. btl I
s.3.d.d. cth 1


HASIL

Tabel 1. Data pengobatan, pemeriksaan fisik dan keadaan pasien dan perkembangan penyakit tanggal 15 – 23 November 2010

Keterangan 15/11 16/11 17/11 18/11 19/11 20/11 21/11 22/11
Amoxicilin
(0,5 cc) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd)
B.plex
(0,5 cc) diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd)
Duradryl
(0,5 cc) Diberikan (s1dd) - - - - Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) -
B-plex
(0,5 cc) diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd)
OBH
(cth.1) - - - - Diberikan (s3dd) Diberikan (s3dd) Diberikan (s3dd) Diberikan (s3dd)
Temperatur Meningkat Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal
Nafas Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat
Pulsus Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal
CRT <2 <2 <2 <2 <2 <2 <2 <2
Nafsu makan sedikit sedikit Ada ada ada ada sedikit ada
Nafsu minum ada ada Ada ada ada ada Ada ada
Defekasi normal normal normal normal normal normal normal normal
Berat badan (kg) 5,4 - - - - - 6.0 -
Natif (-) - - - - - - (-)
Pemeriksaan darah dilakukan - - - - - - dilakukan


Tabel 2. Data hasil pemeriksaan darah awal (15/11/2010) dan akhir (22/11/2010)

Pemeriksaan darah Unit Standar*
(Schalm) Hasil
(15/11/10) Ket. Hasil
(22/11/10) Ket.
Eritrosit 106/µ 5,5-8,5 5,32 Menurun
( Anemia ) 5,23 Menurun
( Anemia )
Hb g/dL 12-18 12,4 Normal 12 Normal
PCV % 37-55 34 Menurun
(Anemia ) 33 Menurun
( Anemia )
MCV fl 60-77 63,9 Normal
(Normositik) 63,1 Normal
(Normositik)
MCH pg 13-17 23,3 Naik 22,9 Naik
MCHC % 32-36 36,5 Naik
(Hiperkromik) 36,4 Naik
(Hiperkromik)
TPP g/dL 6-7,5 7,5 Normal 6,3 Normal
Fibrinogen mg/dL 150-300 500 Naik
(Hiperfibrinogenemia) 300 Normal
Leukosit Sel/mm3 6.000-17.000 26.600 Naik
(leukositosis) 18.150 Naik
(leukositosis)
Neutrofil segm (R) % 89 82
(A) Sel/mm3 3.000-11.500 2.367.400 Naik
(Neutrofilia) 1.488.300 Naik
(Neutrofilia)
Limfosit (R) % 7 16
(A) Sel/mm3 1.000-4.800 186.200 Naik
(Limfositosis) 290.400 Naik
Limfositosis)
Monosit (R) % 4 1
(A) Sel/mm3 150-1.350 106.400 Naik
(Monositosis) 18.150 Naik
(Monositosis)

*Standar normal dari Schalm’s Veterinary Hematology (Feldman et al., 2000)

PEMBAHASAN

Anamnesa dan Pemeriksaan fisik
Anamnesa dan pemeriksaaan fisik anjing “Poni” dengan nomor pendaftaran 753 dilakukan pada tanggal 15 November 2010 mengalami pilek dan batuk sejak tanggal 9 November 2010, belum pernah vaksin dan satu bulan lalu sudah minum obat cacing (Drontal), batuk kering, mulai kemarin sore tidak mau makan dan tidak muntah.
Hasil pemeriksaan fisik antara lain ekspresi muka yang lesu dan keadaan tubuh kurus, pulsus (80x/menit), frekuensi napas (48x/menit) dan suhu tubuh (40ºC) normal. Menurut Moore (2004), anjing memiliki pulsus normal 60-180x/menit, suhu tubuh normal 38,3-38,7ºC, dan frekuensi nafas 10-30x/menit. Turgor kulit masih baik, rambut tidak rontok. Konjunctiva berwarna pink pucat, anemia ditandai dengan membran mukosa menjadi berwarna pucat (Weiss, 2010) dan Cappilary Refill Time (CRT) < 2 detik. Ditemukan adanya kebengkakan pada kelenjar limfe yaitu lgl. Mandibularis, pada kasus ini dikarenakan adanya infeksi lokal yang terjadi pada laryng. Adanya infeksi menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas sel-sel fagositik sehingga terjadi pembengkakan pada lgl. Selain itu, lgl juga merupakan filter terhadap bakteri atau benda asing pada aliran limfe (Johnson et al., 1961).
Pernapasan tipe thoraco-abdominal dan auskultasi paru-paru yaitu vesikuler. Pada pemeriksaan percernaan, mulut bersih dan tidak berbau, anus bersih, konsistensi feses baik (lembek), palpasi abdomen tidak ada rasa sakit. Kelamin dan perkencingan bersih dan palpasi ginjal tidak ada rasa sakit. Demikian juga dengan pemeriksaan syaraf, reflex pupil dan pedal baik. Anggota gerak tidak dapat berdiri dan berjalan normal dengan empat kaki karena terjadi fraktur femur sinister.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap feses dan pemeriksaan darah.

a. Pemeriksaan feses
Berdasarkan hasil pemeriksaan feses secara natif dan sentrifus tidak ditemukan adanya telur. Hal ini dikarenakan anjing Poni telah diberikan obat cacing berupa drontal sebulan yang lalu.
Drontal dog adalah obat cacing kombinasi pyrantel pamoat, praziquantel dan febantel. Drontal plus mengandung praziquantel 50 mg, pyrantel 144 mg dan febantel 150 mg. Dosis yang dianjurkan tiap 1 tablet untuk anjing 10 kg. Kerja Drontal yang cepat melalui dua cara. Pertama pada kadar efektif terendah menimbulkan peningkatan aktivitas otot pada cacing karena hilangnya ion Ca intrasel sehingga timbul kontraksi dan paralisis spastik yang sifatnya reversible, yang mungkin menyebabkan terlepasnya cacing dari tempatnya yang normal pada hospes. Yang kedua, pada dosis terapi yang lebih tinggi praziquantel dapat menyebabkan terjadinya vakuolisasi dan vesikulasi tegumen cacing sehingga isi cacing keluar, mekanisme pertahanan hospes dipacu dan terjadi kematian cacing.

b. Pemeriksaan ektoparasit

Berdasarkan hasil pemeriksaan ektoparasit ditemukan tungau Otodectes cynotis yang berada dalam lubang telinga. Tungau tampak berwarna putih dan terlihat bergerak pada telinga, selain itu terdapat bentukan kering di telinga berwarna hitam umumnya menyerupai bubuk kopi yang merupakan karakteristik infeksi ear mites di telinga. Bentukan ini terdiri dari kotoran telinga, darah, inflamasi biokimia, dan tungau telinga sendiri.
Mekanisme iritasi disebabkan oleh adanya tungau dalam telinga yang dapat mengakibatkan meningkatnya aktifitas ceruminal glands dan oleh karenanya, menjadikan lingkungan yang menguntungkan bagi infeksi sekunder bakteri maupun jamur. Infestasi tersebut dinamakan ‘otodectic mange’ dan secara umum hewan yang terinfestasi menunjukkan gejala tidak nyaman, gatal yang sangat dan bahkan gangguan pendengaran, tergantung dari tingkat keparahannya.

c. Pemeriksaan darah
Berdasarkan hasil pemeriksaan darah tanggal 15 November 2010, yaitu sebelum pasien mendapat pengobatan, diperoleh hasil interpretasi anjing “Poni” mengalami anemia normositik-hiperkromik, limfositosis, monositosis, neutrofilia dan hiperfibrinogenemia. Gejala klinik hewan anemia yaitu lemah, stamina menurun, membran mukosa pucat, ikterus dan hemoglobinuria (urin berwarna merah) (Weiss and Wardrop, 2010).

(Weiss and Wardrop, 2010)
• Anemia normositik hiperkromik
Anemia dapat disebabkan oleh penurunan kecepatan produksi atau oleh kehilangan atau destruksi eritrosit yang meningkat. Hal ini dapat terjadi pada pendarahan akut atau kronis, dapat ditimbulkan oleh toksin yang menyebabkan hemolisis dan destruksi eritrosit, penurunan pembentukan darah oleh destruksi atau hilangnya fungsi jaringan pembentuk darah, kegagalan pembentukan eritrosit oleh defisiensi nutrisi misalnya Fe dan vitamin B12 (Haper et al., 1979).
Anemia mikrositik terjadi kelainan pada pembentukan hemoglobin, maka pada normositik anemia, kelainan disebabkan karena sel eritrosit yang merupakan “kendaraan” hemoglobin, kurang atau tidak cukup jumlahnya. Penyebabnya bisa pada proses pembuatan sel eritrosit (erythropoisis) terganggu, kehilangan sel darah merah dalam jumlah besar atau pemecahan sel yang tinggi. Pada kasus anjing Poni, salah satu factor yang menjadi penyebabnya adalah karena rusakny sum-sum tulang femur akibat fraktur femur.
Hiperkromik terjadi karena kadar hemoglobin yang dikandung dalam eritrosit meningkat, ini dapat ditentukan berdasarkan nilai MCHC di atas nilai normalnya, terjadi pada keadaan lipemia dan hemolisis (Sodikoff, 1995). Hiperkromik merupakan suatu keadaan yang harus dihindari, karena peningkatan yang signifikan dari konsentrasi MCHC. Proses hemolisis juga berpengaruh pada peningkatan kadar Hb yang terinterpretasikan sebagai hiperkromik. Hemolisis dapat terjadi akibat fragmentasi eritrosit yang menyebabkan peningkatan hemolisis intravaskuler secara signifikan, misalnya karena membran eritrosit yang rapuh pada eritrosit yang bentuknya tidak teratur (Cotran et al., 1984).
• Leukositosis
Gambaran leukositosis terjadi akibat peningkatan jumlah leukosit. Leukositosis dapat disebabkan oleh infeksi umum, infeksi lokal, trauma, neoplasma, intoksikasi hasil metabolisme, bahan kimiawi dan obat-obatan. Peningkatan jumlah leukosit ini dipengaruhi oleh peningkatan jumlah dari masing-masing sel darah putih, yaitu berdasarkan hasil pemeriksaan darah terjadi peningkatan neutrofil. Dalam hal ini neutrofilia dapat terjadi akibat respon inflamasi terhadap infeksi bakteri secara primer atau sekunder atau respon terhadap benda asing lainnya (Hariono, 1993).
Menurut Willard et al (1994) neutrofilia dan leukositosis dapat terjadi karena empat faktor utama, 1) terjadi keradangan, 2) stress/steroid, 3) latihan/epinephrine, dan 4) leukemia.
• Neutrofilia
Neutrofilia menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan sel darah putih tersebut untuk melawan agen infeksi di jaringan, sehingga sum-sum tulang aktif memproduksi sel-sel darah putih tersebut, sehingga jumlah neutrofil di darah juga ikut meningkat. Menurut McGavin dan Zachary (2007) adanya neutrofilia menunjukkan respon akut dari infeksi bakteri dalam melindungi jaringan.
Infeksi bakteri akan memicu pergerakan neutrofil ke jaringan yang rusak. Akibatnya, sumsum tulang akan melepaskan neutrofil ke dalam pembuluh darah lebih banyak karena permintaan neutrofil di jaringan meningkat untuk memfagosit agen infeksi (Feldman et al., 2000). Neutrofil dapat memfagosit benda asing dengan diameter mencapai 0,5µm. Kemampuan neutrofil untuk membunuh bakteri tergantung pada isi granulanya yang menyimpan enzim degradasi, enzim peroxidatif, adhesion moleculer, protein/peptid antimikroba (McGavin dan Zachary, 2007). Adanya reseptor pada dinding bakteri misalnya lipopolisakarida (LPS) dari gram (-) akan berikatan dengan lipid-binding protein (LPB) di darah. LPB ini akan mentransfer molekul LPS ke protein yang berlokasi dipermukan makrofag. Ikatan LPS dan makrofag memicu produksi sitokin (Tizard., 2004). Sitokin seperti interleukin (IL-1, IL-6) dan tumor necrosif factor (TNF-α).

• Monositosis
Monositosis merupakan peningkatan monosit diatas standar normal dalam darah. Monosit berasal dari sum-sum tulang masuk ke dalam sirkulasi darah kemudian berubah menjadi makrofag di dalam jaringan. Fungsi makrofag adalah fagositosis dan digesti makromolekuler, partikulat, dan sel debris; mensintesa komponen tertentu yaitu transferin, endogen pirogens, lysosome dan interferon; imunitas seluler. Kejadian monositosis dikarenakan adanya pendaharan internal, terjadi selama ada gangguan yang menciri dengan meningkatnya kebutuhan jaringan untuk proses fagositosis makromolekul atau pada kondisi yang berhubungan dengan imunitas seluler. Respon ini bisa berjalan akut ataupun kronis.

• Hiperfibrinogenemia
Hiperfibrinogenemia adalah peningkatan kadar fibrinogen di dalam darah yang terjadi pada kasus keradangan dan dehidrasi (bersifat relatif). Fibrinogen merupakan plasma protein yang larut air yang diproduksi di mikrosom sel parenkim hati dan disimpan dalam sel tersebut sampai dibutuhkan. Fibrinogen berperan dalam proses koagulasi, mempunyai fungsi pertahanan terhadap luka dengan bermigrasi ke ruang ekstravaskular untuk melokalisasi proses penyakit yang invasif dan membantu peningkatan tingkat sedimentasi eritrosit (Benjamin, 1979). Pada kasus ini terjadi hiperfibrinogenemia dikarenakan adanya laryngitis dan infestasi tungau Otodectes cynotis.

Pengobatan
Pengobatan terhadap anjing “Poni” yang terdiagnosa laryngitis dan infestasi Ear mites yaitu injeksi amoxicilin, injeksi duradryl, injeksi B.plex, namun pada hari ke-5 dengan pertimbangan batuk belum reda maka ditambah sirup OBH untuk menangani batuk kering.
Pengobatan berupa antibiotik amoxicilin 0,5 cc secara i.m sebanyak 2 kali sehari selama 8 hari diberikan untuk dugaan infeksi bakteri baik secara primer maupun sekunder pada kasus laringitis. Amoxicilin bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel bakteri dengan cara mencegah penggabungan asam N-asetilmuramat yang dibentuk di dalam sel kedalam struktur mukopeptide yang biasanya memberi bentuk kaku pada dinding sel bakteri. Mekanisme kerja ini konsisten dengan kenyataan bahwa antibiotik ini hanya bekerja pada bakteri yang sedang tumbuh dengan aktif (Pelczar dan Chan, 1988). Katzung (2004) lebih lanjut menyatakan bahwa dinding sel bakteri tersusun oleh peptidoglikan yang terdiri dari polisakarida dan polipeptida. Aktifitas antibakteri terletak pada cincin beta-laktam (Mutschler, 1991). Antibiotika beta-laktam merupakan analog struktural dari substrat D-ala-D-ala alami yang merupakan gula asam amino yang terdapat pada polisakarida dinding sel bakteri kemudian secara kovalen diikat oleh PBP (Penicilin Binding Protein) sehingga reaksi transpeptidase dihambat sehingga menjadi inaktif, sistesis peptidoglikan berhenti dan dengan demikian tidak memungkinkan terhubungnya kedua lapis linear serabut peptidoglikan yang terdapat dikedua lapis dinding sel sebelah dalam, dan sel bakteri akan mati (Katzung, 2004). Antibiotik ini tidak mempengaruhi sel-sel jaringan mamalia, karena mamalia tidak memiliki dinding massif seperti pada bakteri (Subronto dan Tjahjati, 2008). Namun Amoxicilin tidak tahan terhadap enzim beta-laktamase (penicinilase) yang dihasilkan oleh beberapa bakteri karena enzim tersebut dapat memecah cincin beta-laktam (Mutschler, 1991). Pemberian amoxicilin selama 8 hari berturut-turut bertujuan agar kerja antibiotik untuk mematikan bakteri dapat optimal.
Pengobatan berupa durradryl (diphenhydramin HCl) sebanyak 0,5 cc secara i.m sebanyak 3 kali selama pengobatan, diberikan sebagai antihistamin yang mengandung sedatif, antimuskarinik, dengan cara memblok efek dari histamin di reseptor H1. Diphenhidramin ini bersifat antagonis kompetitif untuk reseptor histamin. Terjadinya ikatan sel dengan antihistamin ini dapat mencegah efek histamin seperti hipersensitifitas akibat gigitan tungau yang menimbulkan sensasi gatal dan juga mencegah pembebasan histamin sebagai mediator inflamasi. Selain itu, dipenhidramin juga merupakan agen antikolinergik yang poten sehingga menyebabkan penurunan kontraksi muskulus (smoot muscle) (Adam,1995). Obat ini juga dapat digunakan sebagai sedativa, mengurangi efek gangguan saluran pernafasan bagian atas, antitussive, dan antiemetika. Adanya sedatif pada kandungan duradryl menyebabkan hewan menjadi lebih tenang.
Pemberian 0,5 cc vitamin B kompleks secara i.m. sebanyak 1 kali sehari selama 8 hari. Pemberian ini bertujuan untuk membantu metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Vitamin B komplek merupakan komplek vitamin B yang berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Komposisinya meliputi Thiamin HCl, Riboflavin, Pyridoksin HCl, kalsium pentatonat dan Nicothinamide.
Pengobatan berupa Ivomec 0,2 cc secara s.c dilakukan untuk mengatasi ektoparasit pada pasien yaitu infestasi Otodectes cynotis. Ivermectin ini memiliki sifat vermisidal dan acarisidal karena kemampuannya berikat dengan asam gamma aminobutirat (GABA) dan mengganggu saluran klor, hingga terjadi hiperpolarisasi membran sel dan selanjutnya menghambat hantaran saraf, yang berakibat kelumpuhan syaraf dan otot perifer parasit. GABA pada nematoda dan arthopoda mengatur hantaran saraf sampai otot perifer, sedangkan pada mamalia hanya menghambat hantaran saraf pada susunan saraf pusat, namun avermectin kurang mampu menembus barrier darah-otak, sehingga memiliki batas keamanan yang luas (Subronto, dan Tjahajati, 2008).
Pengobatan berupa obat batuk OBH digunakan untuk meredakan batuk kering diberikan sebanyak 1 sendok teh sehari tiga kali selama 4 hari. Indikasi pemberian OBH Indoplus adalah untuk meringankan gejala-gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin yang disertai batuk. Cara kerja obat ini sebagai analgesic-antipiretik, antihistamin, ekspektoran dan dekongestan hidung. Komposisi (Tiap sendok takar (5 ml) mengandung) : Parasetamol 200 mg, Pseudoefedrin HCl 15 mg, Klorfeniramin maleat 0,5 mg, Amonium klorida 25 mg dan Succus liquiritae 75 mg.

Perkembangan Keadaan Pasien
Pasien mendapatkan perawatan dan pengobatan di stasioner bedah Kuningan FKH UGM. Selama perawatan 4 hari pertama hewan menunjukkan gejala ke arah perbaikan, nafsu makan dan minum mulai membaik dan suara batuk-batuk mulai mereda. Suhu tubuh kembali normal, namun frekuensi nafas masih tinggi.
Pada hari pertama anjing Poni diberikan injeksi amoksisillin 0,5 cc IM, injeksi vit.B.plek 0,5 cc IM, injeksi Durradryl 0,5 cc IM, dan injeksi Ivomec 0,2 cc. Suhu tubuh dan frekuensi nafas meningkat, dan pulsus masih normal. Hari ke-2 pasien menunjukkan kondisi membaik yang ditandai dengan suhu tubuh mulai normal kembali, nafsu makan dan minum mulai membaik, frekuensi batuk masih ada namun lebih sedikit dibanding hari pertama. Pengobatan yang dilakukan berupa injeksi amoksillin dan B.plex. Hari ke-3 pasien menunjukkan kondisi lebih baik dengan frekuensi batuk mulai menurun, suhu tubuh dan pulsus normal, namun frekuensi nafas masih tinggi. pakan pagi dan sore habis namum sudah 2 hari belum bisa mengeluarkan fesesnya. Hari ke-4 pasien sudah bisa mengeluarkan feses normal namun masih batuk dan frekuensi nafas masih tinggi dan kotoran ditelinga mulai bersih. Hari ke-5 pasien masih batuk-batuk sehingga terapi ditambah pemberian obat batuk OBH untuk batuk kering dan diberikan injeksi durradryl selama 2 hari. Hari ke-6 pasien menunjukkan nafsu makan yang tinggi ditunjukkan dengan pakan langsung habis, suhu tubuh dan pulsus normal namun frekuensi nafas masih tinggi. Frekuensi batuk sudah jarang. Hari ke-7 pasien menunjukkan kondisi mulai membaik dan frekuensi batuk lebih jarang. Berat badan mengalami kenaikan 0,6 kg menjadi 5 kg. Pada hari ke-8 sudah tidak terdengar suara batuk lagi, palpasi laryng tidak ada batuk dan limfoglandula mandibula sudah tidak mengalami kebengkakan. Kondisi tubuh baik. Hal ini menunjukkan bahwa pasien telah mengalami proses penyembuhan.




























KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium, anjing “Poni” didiagnosa menderita Laryngitis dan infestasi ear mites, yang kemudian setelah diberi pengobatan berupa injeksi amoxicillin, duradryl, vit. B.pleks, dan obat batuk OBH sirup, hewan mengalami penyembuhan.

Saran
Salah satu cara yang efektif untuk penanggulangan atau pencegahan penyakit adalah dengan meningkatkan kebersihan, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan. Hewan kesayangan harus terawat dengan cara memandikan secara teratur, pemberian makanan yang sehat dan bergizi sangat diperlukan untuk hewan kesayangan. Meski secara alamiah hewan dapat sembuh sendiri namun pengobatan pada hewan sakit harus segera dilakukan, misalnya pemberian obat cacing yang teratur serta menjaga higienitas dan sanitasi yang baik. Selain itu untuk menghindari penyebaran penyakit, hewan yang sakit dipisahkan dari kelompoknya dan dimasukkan ke kandang kontrol, serta manajemen pemeliharaan dan sanitasi kandang perlu ditingkatkan.










DAFTAR PUSTAKA


Adam, H.R. 1995. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Lowa state University Press. Ames
Bowman, D.D., Hendrix, C.M., Lindsay, D.S.,and Barr, S.C. 2002. Iowa state University Press. Ames.
Cotran, R. S., and Kumar V., Robbins, S.L, 1984. Robbins Pathologic Basis of Disease. 3rd edt. W.B. Saunders Company. Philadelphia.
Feldman F.B, J.G Zinkl, and N. Jain, 2000. Schalm’s Veterinary Hematology. 5th edition, Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia.
Ganiswarna, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi. Fakultas
Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta

Ganong, W.F., 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, terj. Review of Medical Physiology, 20th eds., ahli bahasa: Widajajakusumah, H.M.D., EGC, Jakarta.
Katzung, B.G. 1998. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi keenam. Penerbit buku kedokteran ECG. Jakarta.
Johnson, W.H., Laubengayer, R.A.,dan DeLanney, L.E., 1961.Biology, revised edition. Holt, Rinehart and Winston, USA.
McGavin, M.D., dan Zachary, J.F., 2007. Pathologic Basic Veterinary Disease. Mosby, Elsevier.

Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Edisi kelima. Penerbit IPB. Bandung.
R. Farkas, T. Germann, Z. Szeidemann. 2007. Assessment of the Ear Mite (Otodectes cynotis) Infestation and the Efficacy of an Imidacloprid plus Moxidectin Combination in the Treatment of Otoacariosis in a Hungarian Cat Shelter. Parasitol Res (2007) 101:S35–S44 DOI 10.1007/s00436-007-0609-5
Rossoff I. S.1994, Handbook of Veterinary Drugs and Chemicals, Second Edition, Pharmathox Publishing Company. Illinois.
Subronto dan Tjahajati, I., 2008. Ilmu Penyakit Ternak III: Farmakologi Veteriner, Farmakodinamika dan Farmakokinesis, Farmakologi Klinis. Gadjahmada University Press. Yogyakarta.
Sodikoff, H. C. 1995. Laboratory Profiles of Small Animal Diseases A Quide to Laboratory Diagnosis. Second Edition. Mosby Year Book Inc, USA.
Souza, C.P., Ramadinha, R.R., Scott, F.B., and Pereira, M.J.S., 2008, Factors associated with the prevalence of Otodectes cynotis in an ambulatory population of dogs. Pesq. Vet. Bras. 28(8):375-378
Tennant, B. 2002. BSAVA Small Animal Formulary, 4th ed. British Small Animal Veterinary Association. Gloucester
Tizard, I.R., 2004. Veterinary Imunology An Introduction, 7theds. Elsevier, Saunders.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar