Senin, 06 Desember 2010

TINJAUAN PUSTAKA

Stomatitis

Radang mulut atau stomatitis adalah gangguan yang berupa radang pada selaput lendir rongga mulut. Radang pada alat tertentu dalam rongga mulut mungkin diberi istilah khusus, misalnya radang lidah (glositis), radang gusi (gingivitis), radang langit-langit (palatitis), secara klinis gangguan pada mulut ditandai dengan anoreksia, partial atau total, hipersalivasi dan sering diikuti dengan penutupan bibir agak kuat (smacking). Proses radang bias bersifar primer atau sekunder, sebagai akibat ikutan dari penyakit sistemik. Radang mulut hampir terjadi setiap waktu. Proses radang mungkin terjadi dan lolos dari pengamatan pemilik hewan penderita

Etiologi
Secara primer kejadian yang terbanyak disebabkan oleh penyebab yang bersifat fisik, misalnya benda asing yang ikut termakan seperti potongan kayu, kawat duri dan sebagainya. Juga penggunakan alat-alat kedokteran seperti pembuka mulut, dapat menyebabkan radang traumatik bila tidak hati-hti menggunakannya. Gigi yang salah arah tumbuhnya dapat menyebabkan radang pada gusi, lidah dan pipi. Secara teori apabila termakan atau sengaja diberikan bahan kimia juga dapat menyebabkan iritasi jaringan selaput lender yang mungkin berlanjut dapat menyebabkan radang pada mulut.
Radang sekunder timbul sebagai kelanjutan dari penyakit menular maupun tidak menular yang disebabkan oleh kuman virus dan jamur. Virus akan mengakibatkan lesi jaringan yang beraneka ragam manifestasinya. Infeksi jamur terjadi setelah keadaan setempat bersifat mendukung untuk pertumbuhan jamur. Kondisi tubuh yang menurun, infeksi viral dan penggunaan antibiotik yang berlebihan sering merupakan faktor prediposisi untuk bertumbuhnya jamur
Patogenesis
Pada kejadian primer oleh kerjaan agen penyebab radang, akan berbentuk lesi pada selaput lendir mulut. Karena adanya radang terjadi kebengkakan yang disertai dengan nyeri. Hal tersebut akan merangsang keluarnya air liur yang berlebihan. Juga karena rasa nyeri nafsu makan akan tertekan. Pada radang yang bersifat sekunder, patogenesisnya belum diketahui secara pasti. Pada pemeriksaan patologis anatomis, perubahan yang dijumpai pada radang mulut bervariasi tergantung dari macam dan derajat radang. Secara umum perubahan tersebut meliputi kongesti jaringan yang bersifat difus hingga selaput lender jadi bengkak; apabila terdapat lepuh, vesikula dengan cairan jernih di dalamnya. Lepuh yang pecah akan segera diikuti dengan kematian jaringan. Dapat pula setelah pecah lepuh berbentuk tukak, ulsera hingga terjadi radang yang sifatnya ulceratif. Pada radang papulosa biasanya melanjut dengan pembentukan jaringan granulomatosa. Proses radang yang meluas yang disertai dengan pembusukan jaringan akan dijumpai pada radang flegmonosa.
Gejala Klinis
Gejala klinis yang ditemukan bervariasi tergantung jenis radang maupun penyebabnya. Secara garis besar gejala tersebut berupa, hilangnya nafsu makan, rasa sakit waktu mengunyah, penderita berulang kali membuka mulut, hipersalivasi, mulut berbau busuk disertai dengan kenaikan suhu. Apabila disertai dengan kenaikan suhu, biasanya kenaikan tersebut tidak begitu menyolok. Pada radang yang disebabkan oleh infeksi kuman, tidak jarang suhu akan naik sesuai dengan derajat infeksi serta reaksi tubuh
Diagnosa
Anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium (darah dan tinja) digunakan untuk mengidentifikasi penyebab radang mulut. Dalam keadaan ringan, radang primer dapat sembuh, baik dengan atau tanpa pengobatan
Terapi
Meskipun tidak selalu mudah, perlu diusahakan membersihkan mulut dengan air atau larutan antiseptik. Dengan menghebatnya proses radang, yang berarti terjadi mobilisasi seluler, pada akhirnya kesembuhan primer dapat dipercepat. Pada kejadian infeksi yang berat, penggunaan preparat Sulfonamide atau antibiotik sangat dianjurkan. Pemberian preparat antihistamin dapat pula diberikan. Pada kejadian radang mulut mikotik, biasanya mengenai 1-5% dari kelompok hewan yang diberi pakan yang sama, perlu diatasi dengan penggantian pakan. Selanjutnya pengobatan topikal juga dianjurkan.

Diare
Diare merupakan peningkatan frekuensi pengeluaran feses yang mengandung air melebihi normal (Lewis et al, 1992; Nelson, RW and Couto, CG., 2003). Faktor penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok (Kirk and Bistner, 1985) :
1. Gangguan fungsional ;
alergi makanan dan obat, cacat digesti, cacat absorpsi dan aspek psikologi.
2. Penyakit metabolik atau penyakit umum yang mempengaruhi saluran pencernaan ;
uremia, congestive heart failure, liver chirrhosis, hypoadrenocorticism, dan keracunan logam berat.
3. Penyakit intrinsik pada usus ;
bakteri, fungi, protozoa, metazoa parasit, virus dan radang non spesifik.
Mekanisme terjadinya diare dapat dibedakan dalam beberapa tipe (Lewis et al, 1992) :
1. Perubahan motilitas usus
Perubahan motilitas usus dapat terjadi sebagai akibat adanya radang usus, sehingga usus (terutama usus besar) tidak mampu menahan laju isi usus dan terjadi diare.
2. Sekresi aktif
Sekresi aktif dapat disebabkan karena kerusakan usus atau karena penyakit sistemik seperti congestive heart failure atau hepatic congestion. Kedua penyakit tersebut menyebabkan peningkatan tekanan hidrolik pada vena mesenterica sehingga mendorong keluarnya cairan ke lumen usus.
3. Sekresi pasif / peningkatan osmolalitas
Peningkatan osmolalitas dapat disebabkan oleh maldigesti akibat kekurangan enzim pankreatik, garam empedu atau enzim disakaridase. Kekurangan enzim-enzim tersebut akan menyebabkan karbohidrat, lemak, protein tidak terabsorbsi dengan baik. Pakan yang tidak terabsorbsi tersebut akan diubah menjadi asam laktat dan asam lemak volatil oleh bakteri di kolon. Ini akan menyebabkan penurunan pH (asam) dan peningkatan osmolalitas, yang akhirnya menimbulkan watery diare.
4. Peningkatan permeabilitas (exudatif)
Peningkatan permeabilitas dapat disebabkan karena adanya toksin bakteri yang menyerang sel epitel gastrointestinal. Rusaknya epitel akan menyebabkan aktivasi enzim adenylcyclase yang akan mengkatalis perubahan ATP menjadi cyclic AMP sehingga terjadi peningkatan permeabilitas sel.
Berdasarkan lamanya, diare dapat dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut biasanya disebabkan oleh pakan, parasit ataupun karena penyakit infeksi. Diare kronis pada hewan, pertama kali harus dicurigai adanya parasit seperti nematoda, Giardia, Tritrichomonas. Parasit ini dapat diketahui dengan pemeriksaan feses. Pada diare kronis perlu dibedakan penyebabnya pada usus halus atau usus besar.
Kehilangan cairan dan elektrolit merupakan akibat dari diare yang perlu diwaspadai. Air, sodium, chloride, bicarbonat dan potassium merupakan unsur-unsur utama yang hilang dari tubuh. Kehilangan air, sodium dan chloride akan menyebabkan dehidrasi. Kehilangan bicarbonat akan menimbulkan asidosis metabolik, sedangkan kehilangan potassium akan menyebabkan kelemahan, penurunan nafsu makan ( Lewis, et al., 1992).














Ancylostomiasis
Ancylostomiasis merupakan suatu gangguan atau infeksi yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma sp. Cacing tersebut termasuk kedalam : Phylum : Nemathelminthes, Class : Nematoda (Round Worms), Subclass : Secernentea, Ordo : Ancylostomatoidea, Famili : Ancylostomatidae dan Genus : Ancylostoma.
Ancylostoma sp. merupakan cacing kait klas Nematoda yang umum ditemukan pada anjing dan kucing. Ada lima species Ancylostoma yang umum menyerang pada saluran pencernaan, yaitu antara lain : Ancylostoma caninum, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, Ancylostoma tubaeformae dan Ancylostoma duodenale. Ancylostoma caninum yang umumnya terdapat pada usus halus anjing, rubah, srigala, anjing hutan dan karnivora liar lainnya diseluruh dunia. Ancylostoma braziliense terdapat pada usus halus anjing, kucing dan berbagai karnivora liar lainnya. Ancylostoma ceylanicum terdapat pada usus halus anjing, kucing, dan karnivora lain bahkan pada manusia. Ancylostoma tubaeformae merupakan cacing kait pada kucing. Ancylostoma duodenale ditemukan pada usus halus manusia, primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi.
Cacing Ancylostoma sp. berukuran 10-20 mm, telurnya termasuk tipe strongyloid, yaitu berdinding tipis, oval, dan bila dibebaskan dari tubuh biasanya memiliki 2-8 gelembung dalam stadium blastomer (Subronto, 2006).
Cacing dewasa melekat pada mukosa usus dan dengan giginya memakan cairan jaringan, biasanya darah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Bagian mulut cacing ini dimodifikasi untuk melukai lapisan jaringan, menghisap darah dan menyebabkan hemoragi pada usus halus hospes (Anonim, 2006). Cacing ini akan menghasilkan antikoagulan, sehingga luka tetap berdarah beberapa saat setelah cacing berpindah tempat. Kucing muda akan kehilangan darah dalam jumlah besar, atau mengalami anemia karena defisiensi Fe. Kucing akan diare, feses bercampur darah, kadang disertai muntah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003).










Siklus hidupnya adalah cacing betina bertelur di usus halus anjing dan telur akan keluar bersama dengan feses. Telur menetas kemudian menyilih menjadi L1 berkembang menjadi L2 dan berkembang menjadi L3 lalu keluar bersama feses. L3 merupakan stadium infektif dari cacing Ancylostoma sp., larva ini menginfeksi hospes melalui dua jalur yaitu per os atau per kutan. Pada infeksi per os ; larva tertelan lalu masuk ke dalam kelenjar lambung atau kelenjar lieberkuhn usus halus. Kemudian larva kembali ke lumen usus, menyilih menjadi L4 kemudian dewasa. Bila melalui jalur per kutan ; maka L3 secara aktif menembus kulit hospes. Mereka membuat lubang melalui jaringan sampai mencapai pembuluh darah atau pembuluh limfe. Kemudian melalui sistem vena atau saluran limfe thorak menuju ke jantung dan selanjutnya ke paru-paru. Larva menembus kapiler menuju menuju alveoli dan naik menuju bronkioli dan bronki menuju faring dan oesophagus dan turun kembali ke usus halus. Di sini larva akan menyilih menjadi L4 kemudian dewasa. Selain itu, infeksi prenatal dan transmammaria juga dapat terjadi (Levine, 1994).








Gambar siklus hidup Ancylostoma sp

Patogenesis
Proses infeksi ke dalam tubuh hospes dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut:
1. Infeksi melalui kulit (perkutan)
Larva stadium ketiga yang infektif langsung menembus kulit yang segera diikuti proses migrasi larva ke dalam pembuluh darah atau limfe, langsung ke jantung, paru-paru dan selanjutnya menuju pangkal tekak, kerongkongan dan lambung. Larva akan berubah menjadi cacing dewasa muda didalam usus halus.
2. Infeksi secara oral
Larva stadium ketiga yang infektif memasuki tubuh melalui mulut bersama makanan atau cairan (air susu) yang dikonsumsi. Larva tersebut bermigrasi ke dalam lapisan atas dari mukosa usus halus dalam beberapa hari setelah tertelan, kemudian kembali ke lumen usus halus. Di dalam lumen, berkembang menjadi dewasa setelah mengalami dua kali moulting. (Subronto, 2006). Infeksi parasit kebanyakan melalui ingesti dari telur. Kejadian ini terjadi ketika kucing menjilati daerah yang mengandung feses kucing yang terinfeksi seperti halaman, taman dan rumput. (Anonim, 2006).
3. Infeksi trans-mammaria dan intra uterus
Dalam migrasinya larva dapat mencapai uterus menembus selaput janin hingga anak yang baru dilahirkan pun telah mengandung larva di dalam tubuhnya. Larva tersebut dapat juga mencapai kelenjar susu dan dapat terlarut dalam air susu hingga anak yang masih menyusus dapat terinfeksi melalui susu yang diminum.
4. Infeksi melalui hospes paratenik (paratenic host)
Larva yang bermukim di dalam tubuh hewan yang bertindak sebagai hospes paratenik, misalnya mencit dapat menginfeksi anjing dan kucing atau spesies lain yang rentan cacing tambang bila binatang hospes paratenik tersebut dikonsumsi. (Subronto, 2006).



Gejala Klinis
Gejala utama yang timbul berhubungan dengan anemia, iritasi gastrointestinal, kelemahan umum, dehidrasi, anoreksia, kurus, pertumbuhan terhambat, bulu kering dan kusam, depresi, bahkan pada kasus hebat akan timbul rasa gatal pada kulit, dermatitis, tinja berupa diare berdarah, membrana mukosa pucat, lemah dan melanjut bisa terjadi kematian. Larva dapat bermigrasi ke organ-organ internal seperti hepar atau paru-paru menyebabkan hepatitis dan pneumonia (Kirk and Bistner, 1985).
Diagnosa
Untuk mendiagnosa infeksi Ancylostoma sp. dilakukan pemeriksaan feses metode natif dan sentrifuse, kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi telur cacing yang ditemukan. Sampel darah juga dapat mengindikasikan jika terdapat defisiensi Fe atau protein akibat infeksi dan tingkat keparahan infeksi (Shah, F.S.N, 2000).
Terapi
Pemberian bermacam-macam anthelmentik adalah efektif. Terapi biasanya diulang kira-kira dalam 3 minggu untuk membunuh parasit yang masuk dalam lumen interstisial dari jaringan (Nelson,R.W. dan Couto,C.G., 2003). Ancylostomiasis dapat diterapi dengan pemberian mebendazole. Obat lain yang dapat diberikan antara lain albendazole dan pyrantel. Anemia karena defisiensi Fe adalah masalah utama pada ancylostomiasis, pemberian suplemen Fe dan konsumsi makanan tinggi protein dapat memperbaiki kondisi (Shah, F.S.N, 2000).










Infus Ringer’s Dextrose 5%®
Infus dextrose dalam larutan Ringer merupakan larutan jernih, tidak berwarna, steril dan bebas pirogen, yang terdiri atas glukosa anhidrat (50 g/l) sebagai sumber energi dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, NaCl (8,6 g) yaitu garam untuk memelihara tekanan osmotik darah dan organ-organ dalam tubuh, KCl (0,3 g) yaitu garam yang terpilih untuk mengatasi hipokalemia dan hipokloremia, dan CaCl2 (0,48 g) yaitu garam penting untuk menjaga fungsi syaraf dan otot. Indikasinya sebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori, sebagai penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi dan perdarahan, serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis. Kontraindikasinya pada sindroma malabsorbsi glukosa galaktosa dan harus diberikan dengan hati-hati pada penderita kegagalan fungsi ginjal serta diabetes insipidus.

Infus Lactat Ringer’s
Infus Lactat Ringer’s merupakan cairan solusio untuk mengganti cairan tubuh, sebagai keseimbangan cairan elektrolit dan terapi shock, tersedia dalam kemasan 250, 500, 1000 ml bags. Ringer’s laktat mengandung 40-50 ml/kg NaCl 0,6g, CaCl dihidrat 0,02g, KCl 0,03g, sodium laktat 0,31g (Kirk&Bistner,1985).
Dalam tiap 1 ml larutan ini mengandung natrium 130 mEq/L, klor 109 mEq/L, potassium 4 mEq/L, kalsium 3 mEq/L, buffer 28 mEq/L, osmolalitas 272 mOsm/L. Larutan ringer ‘s laktat termasuk balance crystalloid yang komposisinya dapat mengembalikan cairan ekstra seluler yang hilang. Metabolisme dari larutan ini yaitu menyediakan alkali untuk tubuh. Ringer’s laktat lebih sering digunakan untuk mengisi hipovolemia pada pasien tanpa abnormalitas elektrolit yang besar. Crystalloid yang tidak seimbang (misalnya physiologic saline solution dan dextrose 5 %) tidak dapat mengembalikan cairan extra seluler. Tipe dari larutan tersebut yaitu sebagai larutan pemeliharaan yang tipikalnya mempunyai kandungan sedikit sodium dan potassium yang lebih banyak (Boothe, 2001).
Infus RL pada 100 ml RL mengandung CaCl dihidrat 0,02 g, NaCl 0,6 gram, KCl 0,03 g dan Sodium Lactate 0,31 g. Na merupakan kation utama cairan ekstrasel yang dapat mempertahankan tekanan osmose. Khlorida merupakan anion utama plasma, Kalium merupakan kation penting cairan intrasel. Laktat digunakan sebagai prekursor bikarbonat. Cairan intrasel untuk konduksi syaraf otot. NaCl untuk menjaga tekanan osmose darah dan jaringan, KCl untuk hipokalemia dan hipokloremia, karena pada kasus muntah hewan banyak kehilangan Kalium dan Klorida. Pemberian infus RL juga dapat menjadi pilihan untuk mengisi hipovolemia pada pasien dehidrasi tanpa abnormalitas elektrolit. Kalium merupakan kation mayor di cairan ekstraseluler. Konsentrasi 3,9 – 5,6 mEq/l pada anjing. Jika kurang dapat terjadi hypokalemia, kelemahan (Kirk&Bistner, 1985). Dosis maintenance RL adalah 40-50 mg/kg/ hari (Lane and Cooper, 2003).

Biosolamin
Biosolamin mengandung ATP, Magnesium aspartat, Kalium aspartat, Natrium selenite, dan Vitamin B12. ATP membebaskan energi pada waktu peruraiannya dan memungkinkan pembentukan ester asam fosfor yang dapat diasimilasi. Aktivitas Selenite untuk metabolisme sel, dan vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah. Aspartat mengambil fungsi dari siklus krebs apabila siklus krebs terganggu. Pemberian biosolamin dimaksudkan untuk stimulasi tubuh secara umum terutama pada tonus urat daging dan mengatasi kelemahan akibat kekurangan makanan atau infeksi.

Vitamin B-kompleks
Vitamin B komplek merupakan komplek vitamin B yang berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Komposisinya meliputi Thiamin HCl, Riboflavin, Pyridoksin HCl, kalsium pentatonat dan Nicothinamide.
Thiamin HCl penting untuk oksidasi karbohidrat, berdasarkan fungsinya sebagai koenzim pada proses dekarboksilasi asam alpha keto (asam piruvat, asam laktat). Riboflavin adalah komponen dari flavoprotein enzim yang merupakan bagian dari sistem enzim pada transfer hidrogen (sebagai koenzim pada transpor hidrogen dalam siklus crebs) dan juga bekerja dalam proses degradasi asam lemak, proses oksidasi asam piruvat dalam SSP, asam amino, aldehide, dan produk metabolisme yang lain. Pyridoksin HCl dalam tubuh diubah menjadi pyridoksal fosfat yang berpengaruh sebagai koenzim yang essensial dalam susunan enzim yang diperlukan pada proses dekarboksilasi, transaminasi dan racemisasi asam amino, serta menbantu transpor asam amino melalui membran, membantu proses sintesa dari unsaturated fatty acid, dan membantu merubah triptopan menjadi asam nikotinat. Kalsium pentatonat sebagai bagian dari koenzim A yang diperlukan untuk proses metabolisme, yaitu proses asetilasi, biotransformasi preparat sulfonamide dalam hepar, permulaan siklus crebs, dan metabolisme asam lemak serta asam amino. Nicotinamide sebagai antipelagra, merupakan komponen essensial dari koenzim I dan II dimana enzim tersebut bekerja sebagai penerima H+ dan pemberi H+ dalam proses oksidasi-reduksi dari siklus crebs dan dalam metabolisme zat hidrat arang, zat lemak, dan zat putih telur.

Amoxicilin
Amoxicilin tersedia dalam bentuk serbuk injeksi yang tiap vial berisi amoxicillin sodium yang setara dengan amoxicillin 1000 mg. Konsentrasi larutan amoxicilin injeksi ini adalah 10%. Amoxicillin merupakan antibiotik semi sintetik dari penisilin. Amoxicilin merupakan penicilin yang tahan asam, termasuk asam lambung. Hal ini dikarenakan amoxicilin memiliki gugus phenoxyl yang terikat oleh gugus alkyl dari rantai acylnya (Subronto dan Tjahjati, 2008).
Pada Senyawa ini terdapat gugus hidroksil fenolik tambahan dan dapat bekerja terhadap bakteri Gram negatif seperti Escherchia colli atau Proteus mirabilis, karena itu amoxicilin disebut penisilin spectrum luas. Aktifitas antibakteri amoxicilin ini terletak pada cincin beta-laktam (Mutschler, 1991). Penisilin mudah dirusak oleh agen-agen berbeda yang bervariasi, seperti asam dan basa, logam berat, agen pengoksidasi, alkohol dan panas (Thomas dan Grainger, 1952). Resistensi terhadap golongan penisilin dibagi dalam beberapa kategori yang berbeda yaitu pada bakteri tertentu (misalnya, kebanyakan Staphylococcus aureus, beberapa Haemophilus influenzae dan gonococcus. Kebanyakan batang enterik Gram negatif) menghasilkan beta-laktamase (penicillinases), yang menginaktifkan penisilin dengan memecah cincin beta-laktam. Kontrol genetik pada pembentukan beta-laktamase oleh Staphylococcus aureus terdapat kira-kira 50 enzim berbeda satu terletak pada plasmid yang dapat dipindahkan. Penisilin lain (misalnya, nafsilin) dan sefalosforin resisten terhadap beta-laktamase karena cincin beta-laktamnya dilindungi oleh bagian rantai samping. Resistensi penisilin seperti ini aktif terhadap organisme penghasil beta-laktamase. Bakteri lain tidak membentuk beta-laktamase tetapi resisten terhadap kerja penisilin karena kurang mempunyai reseptor yang spesifik atau kurangnya permeabilitas lapisan luar, sehingga obat tersebut tidak mencapai reseptor (Katzung, 1998)
Beberapa bakteri mungkin tidak rentan terhadap kerja penisilin yang mematikan karena enzim autolik didalam dinding sel tidak aktif. Organisme yang toleran tersebut (misalnya, Staphylococcus tertentu, Streptococcus, Listeria) dihambat tetapi tidak dibunuh. Organisme tanpa dinding sel atau (bentuk Mycoplasma L) yang secara metabolik tidak aktif bersifat tidak rentan terhadap penisilin dan penghambat dinding sel lainnya karena mereka tidak mensistesis peptidoglikan. Beberapa bakteri (misalnya, Staphylococcus) mungkin resisten terhadap kerja beta-laktam pada penisilin yang resisten terhadap beta-laktamase seperti metisilin. Mekanisme resisten ini tampaknya bergantung pada defisiensi atau tidak dapat dicapainya Penicilin Binding Protein (PBP), hal ini tidak bergantung pada produksi beta-laktamase dan frekuensinya sangat bervariasi dengan lokasi geografis (Katzung, 1998).
Dosis pemberian amoxicilin pada kucing yaitu 7 mg/kg im q12 jam (Tennant, 2002), atau 10-20 mg/kg 2 kali sehari selama 4 hari (Rossoff, 1994).

Duradryl
Duradryl merupakan antihistamin dalam bentuk larutan injeksi yang tiap ml mengandung diphenhidramin HCl 10 mg. Antihistamin beraksi secara antagonis kompetitif untuk reseptor histamin khusus di dalam jaringan sel dengan mengikat reseptor sel secara tidak langsung beraksi pada sel. Ikatan dengan sel akan menyebabkan tidak adanya efek histamin pada sel tersebut. Diphenhidramin HCl sendiri merupakan antihistamin dari klas ethanolamine, yang dapat mengandung sedatif, antimuskarinik, dan anti emetika, sehingga dapat menekan gejala batuk, serta antihistamin (H1) menekan muntah dan pruritis (Tennant, 2002). Penggunaan secara i.m jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling sering digunakan.
Antihistamin H1 digunakan dalam mencegah aksi histamin pada bronchial, intestinal, uterus, mukulus halus pembuluh darah. Sebagai antagonis terhadap efek vasokonstriksi oleh histamin dan lebih berpengaruh terhadap efek vasodilatator dalam meningkatkan permeabilitas kapiler. Antihistamin ini berefek terhadap urticaria dan beberapa tipe edema sebagai respon terhadap kelukaan, antigen, alergen dan senyawa histamin yang dibebaskan oleh beberapa spesies.
Setiap antihistamin dapat menghasilkan efek samping. Salah satu yang penting secara klinik pada penghambatan H1 yaitu sedasi atau rangsangan CNS, gangguan gastrointestinal, aksi parasimpatolitik, efek teratogenik dan anastetik. Pada dosis terapeutik dapat berefek sedativa, dalam dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan iritabilitas, konvulsi, hiperpireksia, dan bisa menyebabkan kematian
Diphenhydramin umum digunakan pada pengobatan rhinitis karena alergi, gigitan serangga dan karena nyeri. Efek samping yang paling umum diketemukan seperti rasa ngantuk, ataksia, mulut kering, tachycardia, photophobia, dilatasi pupil, retensi urinaria, konstipasi dan gangguan pengelihatan (Adam,1995). Sehingga penggunaan diphenhdramin kontraindikasi terhadap penderita retensi urin, glaukoma, dan hiperthyroidism (Tennant, 2002). Dosis pemberian diphenhidramin HCl pada kucing yaitu 1 mg/kg secara i.m atau i.v (Tilley dan Smith, 2004).

Pyrantel Pamoat
Pyrantel merupakan obat cacing golongan tetrahidropirimidin, derivat dari imidazothiazole dengan rumus kimia yaitu E-1,4,5,6-tetrahydro-1-methyl-2-[2-(2-thienyl)vinyl]-pyrimidine (Ganiswarna, 1995) dengan garam pyrantel yang diproduksi adalah pamoat. Garam ini berbentuk padat, relatif stabil dalam penyimpanan, meskipun yang berbentuk cairan bila terkena matahari akan mengalami fotoisomerisasi, yang tidak memiliki potensi sebagai obat cacing, sehingaga bila telah dilarutkan harus segera dihabiskan. Pada hewan berlambung tunggal, pyrantel segera diserap setelah pemberian dengan kadar puncak plasma tercapai dalam 2-3 jam. Setelah memasuki tubuh pyrantel segera dimetabolismekan dan di dalam kemih tidak ditemukan senyawa pyrantel utuh. Yang diekskresikan lewat urin mencapai 40%. Garam pamoat pyrantel sulit larut di dalam air, dan hal tersebut sangat menguntungkan untuk membunuh cacing-cacing yang hidup di bagian posterior usus. Terhadap parasit pyrantel menyebabkan kelumpuhan karena kejang otot yang berlebihan, mirip bila asetilkholin berlebihan diberikan kepada cacing. Kemoreseptor yang terdapat pada badan-badan karotis dan aorta, ganglion-ganglion otonom, kelenjar adrenal dan sambungan neuromuskuler terangsang secara terus menerus hingga akibatnya terjadi kelumpuhan (nikotin-like effect). Efek kontraktil otot-otot cacing oleh pyrantel diperkirakan 100 kali lebih besar daripada asetilkholin. Bila efek asetilkholin bersifat reversibel, tidak demikian halnya dengan efek oleh pyrantel. Sediaan pyrantel tidak dianjurkan digunakan untuk hewan yang lemah sekali (Subronto, dan Tjahajati, 2008).
Absorbsi pyrantel pada usus tidak baik sehingga sifat ini memperkuat efeknya yang selektif pada cacing. Ekskresi sebagian besar bersama tinja, dan kurang dari 15% diekskresikan bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolitnya. Efek samping pirantel pamoat jarang, ringan dan bersifat sementara, misalnya keluhan saluran cerna, demam dan sakit kepala. Penggunaan pirantel pamoat tidak boleh diberikan bersama piperazin karena efek kerjanya berlawanan (Ganiswarna, 1995).
Pyrantel digunakan untuk kontrol cacing seperti Toxocara canis, Toxascaris leonina, Ancylostoma caninum, Ancylostoma brazieliensis dan Uncinaria stenocephala (Tennant, 2002). Obat ini dapat menyebabkan cacing mati dalam keadaan spastis (Ganiswarna, 1995).
Pemberian pirantel pamoat sebaiknya diberikan pada kucing umur lebih dari 2 minggu dengan dosis 8-10 mg/kg sekali secara per oral setelah makan (Tilley dan Smith, 2004; Rossoff, 1994).






RIWAYAT KASUS

Nomor : 747
Tanggal periksa I : 01 November 2010
Jenis / Nama hewan : Anjing / Unyil
Pemilik/ Alamat : Bayu Dwi A, Wedo Baru 46, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta
Signalemen : domestik, ♀, 4 bulan, cokelat
Anamnesa : diare selama 4 hari dan muntah, belum pernah diberi obat cacing, belum pernah di vaksin, nafsu makan dan minum jelek
Status Praesens:
• Keadaan umum : Kondisi tubuh kurus, ekspresi muka lesu.
• Frequensi nafas : 56x/ menit
Pulsus : 108x/ menit
Temperatur : 38,6 °C
• Kulit dan rambut : Turgor kulit jelek, rambut rontok.
• Selaput lendir : Konjungtiva pink, CRT>2
• Pencernaan : Inspeksi anus kotor, mulut bau busuk, pembengkakan pada gusi dari gigi molar, palpasi abdomen tidak ada rasa sakit, gerak peristaltik meningkat.
• Peredaran darah : Sistole-distole dapat dibedakan (normal)
• Pernafasan : Tipe thoracoabdominal, auskultasi vesikuler
• Kelamin : Palpasi ginjal tidak ada rasa sakit
Perkencingan
• Syaraf : Refleks pupil, palpebra, pedal baik
• Anggota gerak : Dapat berdiri dan berjalan dengan normal
• Kelenjar limfe : Pembengkakan lgl. submandibularis
• Berat badan : 1,4 kg


Pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan feses : natif (+) Ancylostoma sp
• Pemeriksaan kulit : ( - )
• Pemeriksaan darah : Limfopenia
Monositopenia
Diagnosa
• Stomatitis dan Ancylostomiasis
Prognosa
• Dubius
Tata laksana
• Tanggal 01 November 2010
inf/ Ringer Dextrose 28 cc iv
inj/ Biosolamin 1 cc im
• Tanggal 02 - 05 November 2010
inf/ Ringer Lactat 14 cc sc s.2.d.d
inj/ Amoxicilin 0,14 cc im s.2.d.d
inj/ Duradryl 0,14 cc im s.1.d.d
inj/ B-plex 0.14 cc im s.1.d.d
• Tanggal 02 - 05 November 2010
R/ Pyrantel pamoat mg 125 tab I
s.haust. tab I
R/ B-plex mg 125 tab I, No. V
s.1.d.d. tab I









HASIL

Tabel 1. Data pengobatan, pemeriksaan fisik dan keadaan pasien dan perkembangan penyakit tanggal 01 – 05 November 2010

Keterangan 01/11 02/11 03/11 04/11 05/11
Ringer Dextrose diberikan (s1dd) - - - -
Biosolamin diberikan (s1dd) - - - -
Ringer Lactat - diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s1dd)
Amoxicilin - diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s2dd) diberikan (s1dd)
Duradryl - Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd)
B-plex - Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd) Diberikan (s1dd)
Pyrantel pamoat Diberikan (s.haust)
Temperatur Normal Normal Normal Normal Normal
Nafas Meningkat Meningkat Normal Normal Normal
Pulsus Normal Normal Normal Normal Normal
CRT >2 >2 >2 <2 <2
Nafsu makan Tidak ada Tidak ada ada ada ada
Nafsu minum Tidak ada ada ada ada ada
Defekasi Diare berdarah Diare berdarah Diare berkurang normal normal
Berat badan (kg) 1,4
Natif (+) Ancylostoma
Pemeriksaan darah dilakukan




Tabel 2. Data hasil pemeriksaan darah awal (01 November 2010)

Pemeriksaan darah Unit Standar* Hasil
(01/11/10) Ket.
Hematokrit % 24-45 45 normal
Eritrosit 106/mm3 5-10 10,95 normal
MCV fl 43,1 + 1.5 41,09 normal
WBC (103/ mm3) 5,5-19,5 9,25 normal
TPP g % 6-8 8,4 normal
Neutrofil segmented (R) % 94
(A) Sel/mm3 3000-11500 8695 normal
Limfosit (R) % 2
(A) Sel/mm3 1000-4800 185 menurun
Monosit (R) % 1
(A) Sel/mm3 150-1350 92 menurun
Eosinofil (R) % 3
(A) Sel/mm3 100-1250 277 normal
*Standar normal dari Schalm’s Veterinary Hematology (Feldman et al., 2000)













PEMBAHASAN
Anamnesa dan Pemeriksaan
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, maka kucing “Unyil” dapat didiagnosa menderita stomatitis dan ancylostomiasis. Diagnosis ini diambil dari anamnesis bahwa kucing tersebut berumur 4 bulan dan belum pernah di vaksinasi, diare mulai 4 hari yang lalu disertai dengan darah, hal ini terlihat dari sisa kotoran di anus yang terdapat bercak darah dan fesesnya berlendir. Dari pemeriksaan fisik diketahui bahwa keadaan umum kucing tersebut dapat dilihat ekspresi muka lesu dan suhu tubuh mencapai 38,6OC. Turgor kulit jelek dan rambut rontok. Pada pemeriksaan selaput lendir telihat kionjungtiva pink dan index CRT > 2 detik. Pada pemeriksaan kelenjar limfe dapat diraba pada Lgl. Submandibularis mengalami kebengkakan. Pada pemeriksaan alat pencernaan, dapat dilihat mulut bau busuk,luka dan pembengkakan pada gusi dari gigi molar, palpasi abdominal tidak ada rasa sakit, auskultasi peristaltik usus meningkat, anus kotor dan terdapat bercak darah. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil gambaran darah terjadi penurunan limfosit (limfopenia) dan penurunan monosit (monositopenia). Pada pemeriksaan feses, didapatkan hasil positif Ancylostoma sp pada uji natif dan sentrifus.
Adanya pembengkakan pada Lgl. Submandibularis, mulut bau busuk,luka dan pembengkakan pada gusi dari gigi molar menunjukkan adanya radang pada mulut (stomatitis). Stomatitis pada kucing “unyil” disebabkan oleh gigi molar sudah goyang dan selanjutnya dilakukan penanggalan gigi molar tersebut. Adanya radang juga didukung oleh kejadian limfopenia pada gambaran darah kucing “unyil” pada pemeriksaan darah yang dilakukan.







Gambar Gigi molar Kucing “Unyil”
Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas darah, hal ini turut berperan dalam peneguhan diagnosis suatu penyakit karena dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan penyebab suatu penyakit. Pemeriksaan darah menunjukkan terjadinya limfopenia dan monositopenia meskipun leukosit dalam batas normal
Limfopenia
Limfopenia merupakan keadaan jumlah limfosit kurang dari 1000-4800/ mm3. Penurunan jumlah sel limfosit pada pemeriksaan hitung jenis dengan menggunakan SADT apabila sel yang ditemukan kurang dari 20%. Etiologi limfopenia antara lain ; penurunan produksi limfosit akibat adanya gangguan pada jaringan dari organ tertentu. Penurunan terjadi akibat limfosit pada jaringan yang mengalami gangguan berfungsi sebagai antibodi. Selain itu, dapat juga disebabkan karena adanya peningkatan destruksi limfosit (kemoterapi dan radiasi), peningkatan kortikostreoid (stres), dan peningkatan kehilangan limfe pada saluran pencernaan. Adanya radang pada mulut (stomatitis) pada kucing “unyil” menyebabkan kadar limfosit pada jaringan meningkat, sehingga gambaran darah kucing “unyil” saat dilakukan pemeriksaan darah menunjukkan adanya limfopenia.
Monositopenia
Monositopenia merupakan penurunan jumlah monosit kurang dari 150-1350 sel/mm3. Penurunan jumlah sel monosit pada pemeriksaaan hitung jenis dengan menggunakan SADT apabila sel yang ditemukan kurang dari 2%. Penurunan jumlah monosit dalam darah akibat dari adanya gangguan yang terjadi dalam tubuh karena monosit berfungsi sebagai pertahanan terahir dalam tubuh yang bersifat fagositosis sel yang sudah mati. Terjadinya pendarahan pada diare kucing “unyil” akibat infestasi cacing ancylostoma sp. (Ancylostomiasis) yang tinggi, sehingga terjadi destruksi sel-sel saluran pencernaan belakang kucing “unyil”. Oleh karena itu, fagositosis sel-sel yang sudah mati oleh monosit meningkat sehingga gambaran darah kucing “unyil” saat dilakukan pemeriksaan darah menunjukkan adanya monositopenia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan feses secara natif ditemukan adanya telur dari nematoda yaitu Ancylostoma sp. Selain menyebabkan timbulnya gejala diare, infestasi cacing yang banyak dapat menyebabkan anemia. (Subronto, dan Tjahajati, 2008).









Gambaran telur Ancylostoma sp dari hasil pemeriksaan feses kucing “unyil”
secara natif tanggal 01 November 2010.

Infeksi cacing ini juga dapat menyebabakan anoreksia karena cacing mengeluarkan kolesistokinin yang dapat mendepres sistem syaraf sehingga menyebabkan penurunan nafsu makan. Adanya parasit cacing akan menyebabkan degranulasi mastcell, sehingga histamin akan disekresikan yang mengakibatkan peningkatan kontraksi usus/peristaltik dan menyebabkan diare. Infeksi cacing Ancylostoma sp ini dalam jumlah banyak dapat menyebabkan penurunan absorbsi bahan makanan, sehingga terjadi hypoalbuminemia yang selanjutnya menyebabkan kekurusan dengan busung lapar (asites), (Subronto, 2006).
Diare lebih sering terjadi pada kucing muda dibanding dengan dewasa. Terapi kucing yang terinfeksi cacing dan terjadi diare berdarah umumnya bersifat simtomatik dan supportif. Pada kucing yang menderita ringan, prognosa untuk sembuh sangat besar atau dengan kata lain fausta. Pada penyakit ini, terapi utama adalah infus sesuai dengan status dehidrasi pasien tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. Antibiotik perlu diberikan untuk mencegah jika ada infeksi sekunder bakterial. Terapi supportif dengan pemberian vitamin yang bertujuan untuk membantu metabolisme protein, karbohidrat dan lemak dan diberi antihistamin bila terjadi hipersensitivitas akibat banyak dilepasnya histamin


Pengobatan
Pengobatan yang diberikan pada kucing “unyil” antara lain:
a. Infus Ringer’s Dextrose 5%
Pemberian infus ringer dextrose 5% intravena merupakan terapi utama, sesuai dengan status dehidrasi pasien tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. Infus dextrose dalam larutan Ringer’s terdiri dari glukosa anhidrat (50 g/L) sebagai sumber energi dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. NaCl (8,6 g) yaitu garam untuk memelihara tekanan osmotik darah dan organ-organ dalam tubuh, KCL (0,3 g) yaitu garam-garam yang terpilih untuk mengatasi hipokalemia dan hipokloriemia, CaCl2 (0,48 g) yaitu garam penting untuk menjaga fungsi syaraf dan otot. Indikasi dari larutan ini adalahsebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori, sebagai penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi dan pendarahan, serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis (menormalkan pH darah) (Kirk dan Bistner, 1985).
b. Infus Lactat Ringer’s
Pemberian infus lactat ringer subcutan merupakan pengganti dari infus ringer dextrose 5% sebagai terapi utama. Penggantian ini dilakukan karena pembuluh darah vena kucing “unyil” mengalami hematom akibat kesalahan tehnis dalam penanganan. Tujuan pemberian sama yaitu untuk mengembalikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare
Infus Lactat Ringer’s merupakan cairan solusio untuk mengganti cairan tubuh, sebagai keseimbangan cairan elektrolit dan terapi shock. Tersedia dalam kemasan 250, 500, 1000 ml bags. Ringer’s laktat mengandung 40 – 50 ml/kg NaCl 0,6 g, CaCl dihidrat 0,02 g, KCl 0,03 g, Sodium laktat 0,31 g (Kirk&Bistner,1985). Dalam tiap 1 ml larutan ini mengandung natrium 130 mEq/L, klor 109 mEq/L, potassium 4 mEq/L, kalsium 3 mEq/L, buffer 28 mEq/L, osmolalitas 272 mOsm/L.
c. Biosolamin
Pemberian biosolamin sebagai terapi suportif dan dimaksudkan untuk stimulasi tubuh secara umum terutama pada tonus urat daging dan mengatasi kelemahan akibat kekurangan makanan atau infeksi. Biosolamin mengandung ATP, Magnesium aspartat, Kalium aspartat, Natrium selenite, dan Vitamin B12. ATP membebaskan energi pada waktu peruraiannya dan memungkinkan pembentukan ester asam fosfor yang dapat diasimilasi. Aktivitas Selenite untuk metabolisme sel, dan vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah. Aspartat mengambil fungsi dari siklus krebs apabila siklus krebs terganggu.
d. Vitamin B-kompleks
Pemberian Vitamin B-plex dilakukan 1hari pasca penanganan kucing unyil. Pemberian ini dimaksudkan untuk menggantikan terapi suportif yang dilakukan sebelumnya sehingga terapi sebelumnya dihentikan. Selain itu, juga bertujuan untuk membantu metabolisme protein, karbohidrat dan lemak
Vitamin B komplek merupakan komplek vitamin B yang berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Komposisinya meliputi Thiamin HCl, Riboflavin, Pyridoksin HCl, kalsium pentatonat dan Nicothinamide.
e. Amoxicilin
Pemberian antibiotik berupa antibiotik amoxicilin 0,14 cc secara i.m sebanyak 2 kali sehari selama 4 hari diberikan untuk dugaan infeksi bakteri baik secara primer maupun sekunder. Amoxicilin bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel bakteri dengan cara mencegah penggabungan asam N-asetilmuramat yang dibentuk di dalam sel kedalam struktur mukopeptide yang biasanya memberi bentuk kaku pada dinding sel bakteri. Mekanisme kerja ini konsisten dengan kenyataan bahwa antibiotik ini hanya bekerja pada bakteri yang sedang tumbuh dengan aktif (Pelczar dan Chan, 1988). Pemberian amoxicilin selama 4 hari berturut-turut bertujuan agar kerja antibiotik untuk mematikan bakteri dapat optimal.
f. Duradryl
Pemberian antihistamin dimaksudkan untuk menangani bila terjadi hipersensitivitas akibat banyak dilepasnya histamin. Pengobatan berupa duradryl (diphenhydramin HCl) sebanyak 0,14 cc secara i.m sebanyak 1 kali sehari selama 4 hari diberikan sebagai antihistamin yang mengandung sedatif, antimuskarinik, dengan cara memblok efek dari histamin di reseptor H1. Diphenhidramin ini bersifat antagonis kompetitif untuk reseptor histamin. Terjadinya ikatan sel dengan antihistamin ini dapat mencegah efek histamin seperti hipersensitifitas akibat infestasi cacing dan juga mencegah pembebasan histamin sebagai mediator inflamasi. Adanya sedatif pada kandungan duradryl menyebabkan hewan menjadi lebih tenang. Pemberian antihistamin selama 4 hari berturut-turut diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan dengan menghambat efek histamin, membuat hewan lebih tenang, dan sebagai antiinflamasi.
g. Pyrantel Pamoat
Pengobatan dengan pyrantel pamoat bertujuan untuk mengatasi infestasi Ancylostoma sp. Pyrantel pamoat dapat menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls sehingga cacing mati dalam keadaan spastis. Pirantel pamoat juga dapat menghambat enzim kolinesterase pada ganglion neurotransmisi sehingga meningkatkan kontraksi otot cacing (Ganiswarna, 1995). Absorbsi pyrantel pada usus tidak baik sehingga sifat ini memperkuat efeknya yang selektif pada cacing. Ekskresi sebagian besar bersama tinja, dan kurang dari 15% diekskresikan bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolitnya. Efek samping pirantel pamoat jarang, ringan dan bersifat sementara, misalnya keluhan saluran cerna, demam dan sakit kepala. Penggunaan pirantel pamoat tidak boleh diberikan bersama piperazin karena efek kerjanya berlawanan (Ganiswarna, 1995).

Perkembangan Keadaan Pasien
Selama mendapatkan pengobatan kucing “unyil” menunjukkan gejala ke arah perbaikan. Pada awalnya hewan sudah 4 hari mengalami diare dengan gerak peristaltik usus meningkat serta tidak mau makan 2 hari. Setelah dilakukan penanggalan gigi dan pengobatan dilakukan selama dua hari, kucing “unyil” mulai menunjukkan perubahan yaitu nafsu makan membaik, tetapi konsistensi feses masih belum ada perubahan yaitu masih terlihat lembek. Pada hari ketiga pengobatan, feses kucing unyil sudah menunjukan ke arah perbaikan dimana feses sudah mengeras.
Setelah 4 hari dilakukan pengobatan pasien sudah tidak diare, konjungtiva pink, kondisi tubuh baik dan sehat, ekspresi muka ceria, nafsu makan dan minum baik, sangat lincah dan agresif. Hal ini menunjukkan bahwa pasien telah mengalami proses penyembuhan.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium, kucing “unyil” didiagnosa Stomatitis dan Ancylostomiasis, yang kemudian setelah diberi pengobatan berupa infuse ringer dextrose 5% dan diganti dengan infuse ringer lactate, injeksi biosolamin, vitamin B-plex, duradryl, amoxicillin, dan pyrantel pamoat hewan mengalami penyembuhan.

Saran
Salah satu cara yang efektif untuk penanggulangan atau pencegahan penyakit adalah dengan meningkatkan kebersihan, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan. Hewan kesayangan harus terawat dengan cara memandikan secara teratur, pemberian makanan yang sehat dan bergizi sangat diperlukan untuk hewan kesayangan. Meski secara alamiah hewan dapat sembuh sendiri namun pengobatan pada hewan sakit harus segera dilakukan, misalnya pemberian obat cacing yang teratur serta menjaga higienitas dan sanitasi yang baik.












DAFTAR PUSTAKA

Adam, H.R. 1995. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Lowa state University Press. Ames

Anonimus, 2006, Gastroenteritis, www.medicastore.com
Boothe, D.M., 2001, Small Animal Clinical Pharmacology ang Therapeutics, W.B. Saunders Company, Philadelphia.
Feldman F.B, J.G Zinkl, and N. Jain, 2000. Schalm’s Veterinary Hematology. 5th edition, Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia.

Ganiswarna, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi. Fakultas
Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta

Katzung, B.G. 1998. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi keenam. Penerbit buku kedokteran ECG. Jakarta.

Kirk and Bistner, 1985, Hand Book of Veterinary Procedures and Emergency Treatment, Fourth Edition, W. B. Saunders Company, Philadelphia.
Lane and Cooper, 2003, Veterinary Nursing, Third Edition, Butterworth Heinemann
Levine, N. D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner (judul asli: Textbook of Veterinary Parasitology. Penerjemah: Ashadi, G.). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Lewis, L.D., Morris,M.L. and Hand, M.S., 1992. Small Animal Clinical Nutrition III. 3rd edition. Mark Morris Associates. Topeka-Kansas.

Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Edisi kelima. Penerbit IPB. Bandung.

Nelson, R.W. and Couto, C.G. 2003. Small Animal Internal Medicine. 3rd edition. Mosby. Missouri.

Rossoff I. S.1994, Handbook of Veterinary Drugs and Chemicals, Second Edition, Pharmathox Publishing Company. Illinois.

Shah, F.S.N., 2000, What is A Hookworm Infection? (Ancylostomiasis), http://www.personalmd.com/newa/hookworm.072600.html

Subronto, 2006, penyakit infeksi parasit dan mikroba pada anjing dan kucing. Gadjah mada university press, Yogyakarta.

Subronto dan Tjahajati, I., 2008. Ilmu Penyakit Ternak III: Farmakologi Veteriner, Farmakodinamika dan Farmakokinesis, Farmakologi Klinis. Gadjahmada University Press. Yogyakarta.

Tennant, B. 2002. BSAVA Small Animal Formulary, 4th ed. British Small Animal Veterinary Association. Gloucester

Thomas, S. dan T.H. Grainger. 1952. Bakteria. The blakiston company. New York.

Tilley, L.P., dan Smith, F.W.K., 2004. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar